BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Menulusuri sejarah peradaban Islam tidak muungkin terlepas dari konstruk perdebatan prinsip-prinsip dasar Islam. Baik sisi syari’ah, aqidah maupun tasawwuf. Dalam konteks ini sangat diperlukan kajian intensif tentang ketiganya dengan pendekatan politik dan wacana keagamaan. Pendekatan politik ini diperlukan karena dari sekian banyak referensi sejarah Islam mencatat bahwa perkembangan Islam tidak bisa dilepaskan dari persoalan-persoalan politik.[1] Maka tesis nabi Muhammad saw., yang menyebarkan Islam dengan memanfaatkan isu-isu politik terbukti sangat efektif. Dimasa-masa Islam, bangsa arab tiba-tiba tumbuh menjadi bangsa yang besar dan disegani. Ditengah-tengah sosio-kultural bangsa arab itulah Islam berkembang dengan pesat.

Pada dasarnya, Ilmu dibangun dengan perangkat paradigma, pendekatan dan metode. Dalam hemat penulis, perangkat ini berakumulasi secara dinamis dalam perkembangan ilmu pengetahuan yang bersangkutan. Bagi Islamic Studies, berbagai pendekatan dan metode ilmiah berkembang dengan aneka perspektif, tendensi, dan orientasi yang lahir dari latar masing-masing pengkajinya. Latar ini, nyatanya berkemungkinan menyebabkan terjadinya problem-problem metodologis yang menyangkut paradigma, pendekatan dan metode studinya. Di Indonesia, problem metodologis terjadi karena faktor-faktor hegemoni belief (terlalu kentalnya pendekatan normatif-teologis dan terkesampingkannya pendekatan historis-sosiologis) dan interes misi agama tertentu. Meskipun demikian terdapat kecenderungan di kalangan ilmuan agama di Indonesia memncari format ideal pendekatan khas studi agama, agar mereka menjadi ilmuan otentik tanpa kehilangan identitas sebagai pengikut agama yang taat.[2]

Dalam kaitannya dengan konteks perkembangan Intelektual Islam di Indonesia, dapat dilihat sejumlah fakta yang berusaha mengatasi problem metodologis Intelektual Islam dalam percaturannya dengan Islamic Studies secara luas, dengan menawarkan konsep-konsep konstruktif dan rekonstruktif.[3] Dalam perkembangan selanjutnya intelektual Islam dapat dilihat melalui periodesasi sistem pengetahuan Muslim yang dibuat Kuntowijoyo.[4] Dalam periodisasi ini, intelektual umat Islam (khususnya di Indonesia) bergerak dari periode pemahaman Islam sebagai mitos, lalu sebagai ideologi, dan terakhir sebagai ilmu.

Periode pertama, Islam sebagai mitos. Islam sebagai mitos dipahami sebagai sesuatu yang sudah selesai dan tinggal perlu dipertahankan, dijaga kemurniannya dari campuran-campuran non Islami, dan jika perlu dipertahankan dari serangan pihak luar. Karenanya Kuntowijoyo menyebut bahwa tradisi ini biasanya bersifat deklaratif atau apologetis.[5] Sebuah indikasi menarik yang diajukan Kuntowijoyo adalah mengenai maraknya buku-buku jenis itu yang diterbitkan Bina Ilmu atau Gema Insani Press.

Periode kedua, Islam sebagai ideologi. Islam sebagai ideologi sudah bersifat lebih rasional, tapi masih terlalu apriori/nonlogis. Di sini Islam ditampilkan sebagai ideologi tandingan bagi ideologi-ideologi dunia seperti kapitalisme dan komunisme. Dalam konteks ini, Islam eksis hanya jika ia eksis secara institusional-formal. Karena itu, ketika di Indonesia semua ormas diharuskan berasas Pancasila, ini dipahami sebagai upaya de-Islamisasi. Padahal, kata Kuntowijoyo, ini juga bisa dilihat sebagai isyarat bahwa Islam perlu memasuki babak baru, yaitu periode Islam sebagai ilmu.

Begitulah sekilas mengenai perkembangan intelektual Islam di Indonesia. Bahkan sampai sekarang para ahli berpendapat bahwa Islamisasi Indonesia masih berlanjut. Ini harus diartikan bahwa intelektual Islam yang datang ke Indonesia harus melewati jalan, rentang waktu, serta corak pemikiran yang panjang, dimulai dari Islam datang dipelabuhan-pelabuhan, diperkenalkan, disebarkan, dikembangkan, dimantapkan dan diperbarui.

  1. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka makalah ini mencoba membahas seputar “Perkembangan Intelektual Islam di Indonesia, menyangkut ilmu Kalam, Fiqhi, Tasawwuf dan Tarekatnya” dengan rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana asal mula perkembangan Intelektual Islam di Indonesia?
  2. Bagaiamanakah perkembangan Ilmu Kalam, Fiqhi, tasawuf dan Tarekat di Indonesia?

BAB II

PEMBAHASAN

  1. ASAL MULA INTELEKTUAL ISLAM DI INDONESIA

Kedatangan agama Islam pada abad ke-7 M ke dunia dianggap oleh sejarawan sebagai pembangun Dunia Baru dengan pemikiran baru, cita-cita baru, kebudayaan serta peradaban baru. Selama lebih dari empat belas abad semenjak Nabi Muhammad menyebarkan ajaran-ajaran baru dalam bidang teologi monoteistis, bidang kehidupan individu, bidang kehidupan masyarakat, dan kenegaraan. Kekuatan moral spiritual religius yang lebih mendasar, ditambah kekuatan saintifis intelektual yang lebih tajam, pengorganisasian yang lebih efektif dan efisien, di bawah kepemimpinan yang lebih berwibawa biasanya akan lebih unggul dalam proses saling memengaruhi tadi.

Ketika Islam datang, sebenarnya kepulauan Nusantara sudah mempunyai peradaban yang bersumber kebudayaan asli pengaruh dan peradaban Hindu-Buddha dari India, yang penyebaran pengaruhnya tidak merata. Di Jawa telah mendalam. Di Sumatera merupakan lapisan tipis, sedang di pulau-pulau lain belum terjadi. Walaupun demikian, Islam dapat cepat menyebar. Hal itu disebabkan Islam yang dibawa oleh kaum pedagang maupun para da’i dan ulama. Kedatangan Islam merupakan pencerahan bagi kawasan Asia Tenggara (terutama Indonesia) karena sangat mendukung intelektualisme yang tidak terdapat pada masa Hindu-Buddha.

Islam yang datang ke Indonesia melalui transportasi laut harus menyusuri pantai Laut Merah, negeri Yaman, Hadramaut, Gujarat, Pulau Seylon, baru sampe ke Perlak. Dari perlak menyusuri Banten, Gresik terus ke timur melalui Mataram (Lombok) ke Maluku, tempat-tempat itu masing-masing mempunyai peranan dalam perkembangan intelektual Islam. Dalam perkembangannya kemudian, jaringan hubungan seperti itu terus berlanjut timbal balik dari abad ke abad, generasi ke generasi, mula-mula berupa jaringan perdagangan, berlanjut kepada jaringan ulama sebagaimana di sebutkan oleh Azyumardi Azra, selanjutnya kepada jaringan tasawuf–terekat sehingga perubahan apapun yang terjadi di pusat Islam Timur Tengah akan sangat memengaruhi keadaan Islam di Indonesia.[6]

Ajaran Islam dibawa oleh Nabi Muhammad Yang pada masa awal dilaksanakan secara murni. Ketika Rasulullah wafat, cara beramal dan beribadah para sahabat dan tabi’in masih tetap memelihara dan membina ajaran Rasul, yang kemudian dikenal dengan sebutan amalan salaf al-shalih.

Berkenaan dengan asal mula inteletual Islam di Indonesia,[7] maka pertanyaannya adalah kapan pribumi nusantara memeluk Islam?, para ahli berbeda pendapat dalam masalah ini. Ada yang mengatakatan bahwa orang Muslim asing memang sudah ada yang menetap di pelabuhan dagang di Sumatra dan Jawa beberapa abad sebelum abad ke-16, namun baru menjelang abad ke-10 ada bukti-bukti orang pribumi memeluk Islam di suatu kerajaan kecil Perlak, dilanjutkan pada abad ke-13 oleh Kerajaan samudra Pasai. Selama abad ke-14 dan 15 secara berangsur-angsur Islam menyebar ke pantai utara Jawa dan Maluku. [8]

Islamisasi Indonesia tidak terdokumentasi dengan baik sehingga banyak spekulatif dikalangan ilmuan yang menimbulkan perdebatan yang belum terselesaikan. Karena luasnya wilayah Indonesia tidak mungkin Islamisasi terjadi melalui pola yang seragam. Ada yang melalui perdagangan, atau aliansi politik antar pedagang dengan putri bangsawan, atau mungkin juga melalui penaklukan. Namun secara umum proses tersebut berlansung secara damai melalui peranan intelektual Islam yang mudah diterima oleh masyarakat. Adapun sumber-sumber pendukung Masuknya Islam di Indonesia diantaranya adalah:

  1. Berita dari Arab

Berita ini diketahui dari pedagang Arab yang melakukan aktivitas perdagangan dengan bangsa Indonesia.[9] Pedagang Arab Telah datang ke Indonesia sejak masa kerajaan Sriwijaya (abad ke-7 M) yang menguasai jalur pelayaran perdagangan di wilayah Indonesia bagian barat termasuk Selat Malaka pada waktu itu. Hubungan pedagang Arab dengan kerajaan Sriwijaya terbukti dengan adanya para pedagang Arab untuk kerajaan Sriwijaya dengan sebutan Zabak, Zabay atau Sribusa.[10]

  1. Berita Eopa

Berita ini datangnya dari Marcopolo tahun 1292 M. Ia adalah orang yang pertama kali menginjakan kakinya di Indonesia, ketika ia kembali dari cina menuju eropa melalui jalan laut. Ia dapat tugas dari kaisar Cina untuk mengantarkan putrinya yang dipersembagkan kepada kaisar Romawi, dari perjalannya itu ia singgah di Sumatera bagian utara. Di daerah ini ia menemukan adanya kerajaan Islam, yaitu kerajaan Samudera dengan ibukotanya Pasai.[11] Diantara sejarawan yang menganut teori ini adalah C. Snouch Hurgronye, W.F. Stutterheim,dan Bernard H.M. Vlekke.[12]

  1. Berita India

Berita ini menyebutkan bahwa para pedagang India dari Gujarat mempunyai peranan penting dalam penyebaran agama dan kebudayaan Islam di Indonesia.[13] Karena disamping berdagang mereka aktif juga mengajarkan agama dan kebudayaan Islam kepada setiap masyarakat yang dijumpainya, terutama kepada masyarakat yang terletak di daerah pesisisr pantai.[14] Teori ini lahir selepas tahun 1883 M. Dibawa oleh C. Snouch Hurgronye.[15]

  1. Berita Cina

Berita ini diketahui melalui catatan dari Ma Huan, seorang penulis yang mengikuti perjalanan Laksamana Cheng-Ho. Ia menyatakan melalui tulisannya bahwa sejak kira-kira-kira tahun 1400 telah ada saudagar-saudagar Islam yang bertempat tinggal di pantai utara Pulai Jawa.[16] T.W. Arnol pun mengatakan para pedagang Arab yang menyebarkan agama Islam di Nusantara, ketika mereka mendominasi perdagangan Barat-Timur sejak abad-abad awal Hijrah atau abad ke-7 dan ke-8 M. Dalam sumber-sumber Cina disebutkan bahwa pada abad ke-7 M seorang pedagang Arab menjadi pemimpin sebuah pemukiman Arab Muslim di pesisir pantai Sumatera (disebut Ta’shih).[17]

  1. Sumber dalam Negeri

Terdapat sumber-sumber dari dalam negeri yang menerangkan berkembangnya pengaruh Islam di Indonesia.[18] Yakni Penemuan sebuah batu di Leran (Gresik). Batu bersurat itu menggunakan huruf dan bahasa Arab, yang sebagian tulisannya telah rusak. Batu itu memuat tentang meninggalnya seorang perempuan yang bernama Fatimah Binti Maimun (1028). Kedua, Makam Sultan Malikul Saleh di Sumatera Utara yang meninggal pada bulan Ramadhan tahun 676 H atau tahun 1297 M. Ketiga, makam Syekh Maulana Malik Ibrahim di Gresik yang wafat tahun 1419 M. Jirat makan didatangkan dari Guzarat dan berisi tulisan-tulisan Arab.[19]

  1. PERKEMBANGAN ILMU FIQHI, ILMU KALAM, TASAWUF DAN TAREKAT DI INDONESIA
  2. Fiqhi

Ada sebuah pertanyaan yang berhubungan dengan keadaan masuknya Islam ke Indonesia, yaitu dalam bentuk aliran mazhab mana, mazhab Syafi’i-kah atau mazhab Syi’ah. Pertanyaan ini tidak mudah dijawab, apalagi jika dipikirkan bahwa keadaan mazhab itu dalam masyarakat Islam ibarat ukuran panas, kadang-kadang naik digerakkan oleh kegiatan penganut-penganut aliran itu, kadang-kadang turun dikalahkan oleh aliran lain. Akan tetapi melalui ibn Bathutah,[20] yang penulis kutip dalam buku Sekitar Masuknya Islam ke Indonesia karangan Prof. Dr. H. Aboebakar Aceh, agaknya memberikan setetes sinar dalam menjawab masalah ini. Ia Battutah menceritakan:

tatkala dia menemui “Sultan Jawa” (Samudra) Malikuzh Zhahir, ia menceriterakan bahwa raja itu dikelilingi oleh orang-orang besar dalam bidang hukum, seperti Syarif Amir Sayyid Asy-Syirazi dan Tajuddin Al-Ashfahani dan lain-lain ulama-ulama dan fuqaha. Ia menceritakan. bahwa Sultan Malikuzh Zhahir itu seorang Islam yang bermazhab Syafi’i, dicintai oleh ulama-ulama fiqhnya, selalu ia menghadiri pengajian-pengajian dan pertemuan-pertemuan.[21]

Dalam pertemuannya dengan Sultan, Malikuzh Zhahir bertanya tentang beberapa banyak masalah fiqh mengenai mazhab Syafi’i, yang dijawab oleh Ibn Batuttah satu persatu sampai waktu asar sore hari. Kelihatan Sultan senang sekali dengan pembicaraan mengenai hukum-hukum Islam menurut mazhab Syafi’i itu.[22]

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Islam yang masuk ke Perlak dan Pase pada saat itu (dalam zaman Malikuzh Zhahir) adalah dalam mazhab Syafi’i. Akan tetapi Aboebakar Aceh, masih relatif dalam kesimpulan ini, oleh karena sebelumnya belum tentu dalam mazhab Syafi’i.

Ilmu fiqih[23] adalah salah satu disiplin ilmu yang sangat penting kedudukannya dalam kehidupan umat Islam. Fiqih termasuk ilmu yang muncul pada masa awal berkembang agama Islam. Secara estensial, fiqih sudah ada pada masa Nabi SAW, walaupun belum menjadi sebuah disiplin ilmu tersendiri. Karena Semua persoalan keagamaan yang muncul waktu itu, langsung ditanyakan kepada Nabi SAW. Maka seketika itu solusi permasalahan bisa tertanggulangi, dengan bersumber pada Al Qur’an sebagai al wahyu al-matlu dan sunnah sebagai alwahyu ghoiru matlu.[24] Baru sepeninggal Nabi SAW, ilmu fiqh ini mulai muncul, seiring dengan timbulnya permasalahan-permasalahan yang muncul dan membutuhkan sebuah hukum melalui jalan istimbat.

Sehubungan dengan perkembangan fiqhi di Indoneisa, Dalam kenyataannya, mazhab fikih yang banyak diikuti di Indonesia adalah pemikiran Imam Syafii.[25] Mazhab fikih Syafii tersebut dibawa oleh mubalig dan ulama yang datang ke Indonesia menyebarkan Islam. Setelah terjadinya Islamisasi, maka ulama-ulama dari kalangan pribumi pun muncul dan diketahui kemudian ternyata sebagian besar adalah pendukung mazhab Syafii.[26] Fikih Syafii adalah fikih sintesa atau perpaduan antara fikih Hanafi dan fikih Maliki. Hal ini boleh jadi karena Muhammad Idris Al-Syafii pernah berguru pada Imam Malik di Madinah selama 9 tahun. Kemudian beliau sempat berkenalan dengan Fikih Hanafi melalui seorang murid imam Abu Hanifah yaitu Muhammad bin al-Hasan Al-Syaibani, dengan beliau pernah berkumpul di Baghdad selama tiga tahun.

Ketika Islam dibawa masuk ke Indonesia dan menyebabkan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam diberbagai daerah, keberadaan Islam dan penganutnya tidak dipandang sebagai musuh yang datang menjajah, melainkan dirasakan sebagai pembaharuan dan inovasi. Sebab, umumnya antara raja-raja di kerajaan Islam masih ada pertalian darah dengan raja yang digantikannya. Kerena itu, perubahan itu dipandang sebagai kelanjutan yang tidak mengejutkan, hanya berganti keyakinan agama yang dianggap lebih sesuai dan praktis. Kekuasaan raja dan sultan juga lebih banyak ditopang dan didukung oleh penasehat-penasehat agama yang lazim disebut wali, yang tiada lain adalah pemimpin agama dan dai yang agung sekaligus ulama. Setelah kemerdekaan, sudah tentu untuk mengisi kemerdekaan ini, sikap ulama terhadap umara tidak boleh terjadi sebagaimana terhadap penjajah, melainkan dibina kemanunggalan ulama dengan umara’ sedemikian rupa sehingga pembangunan di Indonesia di alam kemerdekaan ini dapat berjalan lancar.

Dengan perspektif yang melihat bahwa dinamika pergerakan Islam tidak dapat diisolasikan dari dinamika negara sebagai kekuatan yang mampu memproduksikan sistem simbolik, dan juga dengan perspektif bahwa Islam mempunyai potensi untuk melakukan “counter hegomonic-movement” sambil menawarkan alternatif-alternatif sistematik untuk integrasi sistem sosial dan sistem budaya. Gerakan-gerakan dari pembaharu telah menjadi warisan tersendiri dalam spektrum intelektual Islam Indonesia yang sekaligus sebagai pemikiran baru perkembangan hukum Islam.[27]

Pelopor pembaharuan fikih di Indonesia, pertama adalah Hazairin,[28] seorang guru besar Hukum Islam dan Hukum Adat Universitas Indonesia. Dan kedua Hasbi Ash Shiddiqiy.[29] Meskipun konsepsi yang diajukan oleh kedua guru besar ini tampak tampil secara sendiri-sendiri, tapi masih tidak terlepas kepada bentuk pembaharuan yang selalu didengunkan di Indonesia, walaupun pada saat itu belum terbentuk ide mereka dalam satu ketetapan hukum, namun banyak praktek para cendekiawan sudah menuju ke arah pembaharuan tersebut. Ide yang sama juga dikemukakan oleh Munawir Sadzali,[30]

Tampak dari pendapat-pendapat mereka bahwa sesungguhnya mereka menggunakan terminologi yang bersamaan dan tujuan yang sama. Sekalipun demikian, ada suatu perbedaan pokok antara mereka. Hazairin berpendapat bahwa mazhab di Indonesia adalah mazhab Syafii yang diperbaharui, sedangkan Hasbi ingin membentuk fikih Indonesia, dan pendapat ini diperbuat oleh Bapak Munawir Syadzali. Dari ide-ide pemikiran mereka itulah saat ini ada sejumlah produk perundang-undangan yang bercirikan Indonesia, Seperti lahirnya Undang-Undang Hukun Acara Peradilan Agama, dimana Pengadilan Agama mempunyai kewenangan yang lebih luas bila dibandingkan dengan sebelum lahirnya Undang-Undang tersebut.

Dari kesekian itu dengan adanya komplikasi hukum Islam yang ada di Indonesia sekarang ini telah terbukti bahwa walaupun belum sampai kepada semua bidang hukum dapat di kembangkan sesuai zaman, akan tetapi minimal sudah mempunyai langkah-langkah baru dalam menuju fikih ala Indonesia. Ide kompilasi hukum Islam timbul setelah beberapa tahun Mahkamah Agung membina Teknis Yuridis Peradilan Agama, tugas pembinaan ini didasarkan pada UU No. 14 tahun 1970. Tentang ketentuan-ketentuan pokok kekuasaan kehakiman.[31]

Bardasarkan ketentuan di atas, secara formalnya baru muncul pada tahun 1985 dan kemunculannya ini merupakan hasil kompromi antara Mahkamah Agung dengan menteri agama. Maka Bustanil Arifin sebagai penegas gagasan ini menyatakan bahwa, untuk berlakunya hukum Islam di Indonesia harus ada antara lain, hukum yang jelas dan dapat dilaksanakan baik oleh aparat maupun oleh rakyat. Upaya penyusunan kompilasi hukum Islam ini disusun dengan mempertahankan kondisi kebutuhan hukum dan kesadaran hukum umat Islam Indonesia, bukan upaya mazhab baru, tetapi sebagai upaya mempersatukan berbagai fikih dalam menjawab satu persoalan yang mengarah kepada unifikasi mazhab dalam Islam. Bagaimanapun juga kompilasi ini sebagai sesuatu yang di hayati oleh masyarakat bangsa kita.

Hukum-hukum Islam datang untuk menjadi rahmat bagi masyarakat manusia bahkan bagi alam semesta. Kompilasi hukum Islam di Indonesia adalah suatu peluang bagi umat Islam. Sehubungan dengan itu seorang pengamat umat Islam. Mitsoo Nakamura menyatakan bahwa, “kompilasi ini sangat strategis dan mempunyai arti penting bagi umat Islam”.[32] Akan tetapi menurut Nakamura, soalnya tinggal bagaimana tokoh-tokoh Islam dan umat Islam melihat serta memanfaatkan arti pentingnya proyek kompilasi hukum Islam itu. Urgensi Pembaruan Fiqih akan tampak dalam suatu persoalan, yang dalam penerapan suatu hukum fiqih menimbulkan beban yang teramat sangat dan kesulitan dalam kondisi seperti ini pembaruan justru diperlukan, sesuai dengan prinsip “ menghindari kesulitan dalam Islam “(daf al-haraj fi al- Islam) dan kaidah ilmu syar’i “ kesulitan bisa menarik kemudahan “ (al-masyaqqah tajlib al-taysir) dan  “ketika sesuatu sempit, ia menjadi lapang“ (idza dhaqa al- amr, ittasa’a ).

  1. Ilmu Kalam

Di antara kebudayaan Islam Indonesia dalam bidang intelektual, barangkali, pemikiran kalam (akidah) adalah yang paling susah ditelusuri. Hal ini disebabkan objek akidah adalah barang gaib, soal keimanan, pelakunya hati manusia. Ditambah lagi, perkembangan pemikiran ini di Indonesia kurang membedakan antara akidah, syariah, dan tasawuf.[33]

Pemikiran kalam ini di Indonesia datang dan berkembang bersamaan dengan datangnya Islam yang dibawa oleh pedagang berasal dari Arab, Persi, dan keturunan Arab Gujarat di pelabuhan-pelabuhan Indonesia. Mereka ada yang berpaham Sunni dan Syi’ah.[34]

Ilmu Kalam[35] adalah salah satu dari empat disiplin keilmuan yang telah tumbuh dan menjadi bagian dari tradisi kajian tentang agama Islam. Tiga lainnya ialah disiplin-disiplin keilmuan Fiqh, Tasawuf, dan Falsafah. Jika Ilmu Fiqh membidangi segi-segi formal peribadatan dan hukum, sehingga tekanan orientasinya sangat eksoteristik, mengenai hal-hal lahiriah, dan Ilmu Tasawuf membidangi segi-segi penghayatan dan pengamalan keagamaan yang lebih bersifat pribadi, sehingga tekanan orientasinya pun sangat esoteristik, mengenai hal-hal batiniah, kemudian Ilmu Falsafah membidangi hal-hal yang bersifat perenungan spekulatif tentang hidup ini dan lingkupnya seluas-luasnya, maka Ilmu Kalam mengarahkan pembahasannya kepada segi-segi mengenai Tuhan dan berbagai derivasinya. Karena itu ia sering diterjemahkan sebagai Teologia, sekalipun sebenarnya tidak seluruhnya sama dengan pengertian Teologia dalam agama Kristen,[36]

Sebagai unsur dalam studi klasik pemikiran keIslaman. Ilmu Kalam menempati posisi yang cukup terhormat dalam tradisi keilmuan kaum Muslim. Ini terbukti dari jenis-jenis penyebutan lain ilmu itu, yaitu sebutan sebagai Ilmu Aqa’id (Ilmu Akidah-akidah, yakni, Simpul-simpul [Kepercayaan]), Ilmu Tawhid (Ilmu tentang Kemaha-Esaan [Tuhan]), dan Ilmu Ushul al-Din (Ushuluddin, yakni, Ilmu Pokok-pokok Agama).

Dalam hal perkembangannya Di negeri Indonesia, terutama seperti yang terdapat dalam sistem pengajaran madrasah dan pesantren, kajian tentang Ilmu Kalam merupakan suatu kegiatan yang tidak mungkin ditinggalkan. Ditunjukkan oleh namanya sendiri dalam sebutan-sebutan lain tersebut di atas, Ilmu Kalam menjadi tumpuan pemahaman tentang sendi-sendi paling pokok dalam ajaran agama Islam, yaitu simpul-simpul kepercayaan, masalah Kemaha-Esaan Tuhan, dan pokok-pokok ajaran agama. bahkan ada yang mengklaim bahwa perkembangan Islam di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh ilmu Kalam itu sendiri. Karena itu, tujuan pengajaran Ilmu Kalam di madrasah dan pesantren ialah untuk menanamkan paham keagamaan yang benar. Maka dari itu pendekatannya pun biasanya doktrin, seringkali juga dogmatis.

Di zaman sekarang kaum Muslimin (khususnya Indonesia) mengenal ajaran Tauhid (ilmu Kalam) melalui karya-karya ulama ilmu kalam atau teologi Islam, terutama rumusan Abu Hasan al-Asy’ari[37] (260-324 H/873-935 M).

Ilmu Kalam al-Asy’ar’i, juga sering disebut sebagai paham Asy’ariyyah, kemudian tumbuh dan berkembang untuk menjadi Ilmu Kalam yang paling berpengaruh dalam Islam terutama di Indonesia sampai sekarang, karena dianggap paling sah menurut pandangan sebagian besar kaum Sunni. Kebanyakan mereka ini kemudian menegaskan bahwa “jalan keselamatan” hanya didapatkan seseorang yang dalam masalah Kalam menganut al-Asy’ari.

Seorang pemikir lain yang Ilmu Kalam-nya mendapat pengakuan sama dengan al-Asy’ari ialah Abu Manshur al-Maturidi (wafat di Samarkand pada 333 H/944 M). Meskipun terdapat sedikit perbedaan dengan al-Asy ‘ari, khususnya berkenaan dengan teori tentang kebebasan manusia (al-Maturidi mengajarkan kebebasan manusia yang lebih besar daripada al-Asy’ari), al-Maturidi dianggap sebagai pahlawan paham Sunni, dan sistem Ilmu Kalamnya dipandang sebagai “jalan keselamatan”, bersama dengan sistem al-Asy’ari. Sangat ilustratif tentang sikap ini adalah pernyataan Haji Muhammad Shalih ibn ‘Umar Samarani (yang populer dengan sebutan Kiai Saleh Darat dari daerah dekat Semarang), dengan mengutip dan menafsirkan Sabda nabi dalam sebuah hadits yang amat terkenal tentang perpecahan umat Islam dan siapa dari mereka itu yang bakal selamat:

“…Umat yang telah lalu telah terpecah-pecah menjadi tujuh puluh dua golongan, dan kelak kamu semua akan terpecah-pecah menjadi tujuh puluh tiga golongan, dari antara tujuh puluh tiga itu hanya satu yang selamat, sedangkan yang tujuh puluh dua semuanya dalam neraka. Adapun yang satu yang selamat itu ialah mereka yang berkelakuan seperti yang dilakukan junjungan Rasulullah s.a.w., yaitu ‘aqa’id (pokok-pokok kepercayaan) Ahl al-Sunnah wal-Jama’ah Asy’ariyyah dan M’aturidiyyah”.[38]

Dari pernyataan Haji Muhammad Shalih ibn ‘Umar Samarani di atas, dapat dilihat pengaruh ilmu Kalam asy’Ari dalam kancah intelektual Islam di Indonesia yang dalam perkembangan kekiniannya banyak terbahas dalam buku-buku teologi yang diwakili oleh H. Mohamad Rasjidi[39] dan Harun Nasution.[40]

  1. Tasawuf dan Tarekat

Sebagaimana dalam pembahasan sebelumnya, bahwa formalisasi syariah terjadi Pada abad pertama Hijriyah selanjutnya pada abad yang sama juga telah dimulai diperbincangkan tentang teologi. Abad ke-2 Hijriyah mulai muncul tasawuf.

Tasawuf[41] merupakan salah satu saluran yang penting dalam proses Islamisasi. Tasawuf termasuk kategori yang berfungsi dan membentuk kehidupan sosial bangsa Indonesia yang meninggalkan bukti-bukti yang jelas pada tulisan tulisan antara abad ke-13 dan ke-18. hal itu bertalian langsung dengan penyebaran Islam di Indonesia.[42] Dalam hal ini para ahli tasawuf hidup dalam kesederhanaan, mereka selalu berusaha menghayati kehidupan masyarakatnya dan hidup bersama di tengah-tengah masyarakatnya. Para ahli tasawuf biasanya memiliki keahlian untuk menyembuhkan penyakit dan lain-lain. melalui tasawuf, yaitu proses islamisasi dengan mengajarknan teosofi dengan mengakomodir nilai-nilai budaya bahkan ajaran agama yang ada yaitu agama Hindu ke dalam ajaran Islam, dengan tentu saja terlebih dahulu dikodifikasikan dengan nilai-nilai Islam sehingga mudah dimengerti dan diterima.[43]

Secara relatif corak pemikiran Islam yang pernah dipengaruhi oleh tasawuf selanjutnya berkembang menjadi tarekat. Justru ketika abad ke-13 Masehi ketika masyarakat Nusantara mulai memantapkan diri memeluk Islam, corak pemikiran Islam sedang dalam puncak kejayaan tarekat.

Abad-abad pertama Islamisasi Indonesia berbarengan dengan masa merebaknya tasawuf abad pertengahan dan pertumbuhan tarekat. Dalam abad-abad ini muncullah tokoh-tokoh sufi yang terkenal seperti Abu Hamid al-Ghazali (w.1111), Ibn ‘Arabi (w. 1240), Abdul al-Qadir al-Jilani (w.1166) yang ajarannya menjadi dasar tarekat Qadiriyah, Abu al-Najib al-Suhrawardi (w.1167), Najmu al-Din al-Kubra (w. 1221), Abu al-Hasan al-Syadzili (w.1258), Rifa’iyah menjelang 1320, Baha al-Din Naqsyabandi (w.1389) dan Abdullah al-Syaththar (w.1428-1429).[44]

Sejarawan mengemukakan babhwa karena faktor tasawuf dan tarekatlah islamisasi Asia Tenggara, termasuk Indonesia, dapat berlansung dengan damai. Ajaran kosmologis dan metafisis tasawuf Ibn ‘Arabi dapat dengan mudah dipadukan dengan ide-ide sufistik India dan Ide-ide sufistik pribumi yang dianut masyarakat setempat. Bahkan sampai sekarang Islam Indonesia masih diliputi sikap sufistik dan kegemaran kepada hal-hal yang mengandung keramat. Diantara naskah-naskah Islam paling tua dari jawa dan sumatra yang masih ada sampai sekarang (dibawah ke Eropa sekitar tahun 1600) terdapt risalah-risalah tasawuf dan cerita-cerita keajaiban yang berasal dari persia dan India. Di dalam tulisan-tulisan jawa masa belakangan ditemukan adanya ajaran tasawuf yang lebih kental sedangkan perihal tarekat mendapatkan banyak pengikut sekitar abad ke-18 dan 19 Masehi.[45]

Sufi pertama Indonesia yang karangannya tentang tarekat sampai kepada kita sekarang adalah Hamzah Fansuri.[46] Dalam bidang sufi ia mengungkapkan gagasn-gagasanya melalui sayir bercorak wahdat al-wujud yang mendorong kepada penasiran panteistik. Dalam syairnya ia juga bercerita tentang kunjungannya ke Mekkah, al-Quds, Bagdad (dimana ia mengunjungi makam ‘Abdul al-Qadir al-Jilani) dan Ayuthia. Di tempat terakhir ia menerma ijazah. Namun dalam syairnya disebutkan dia menerima ijazah di Bagdad dan berafiliasi dengan tarekat Qadiriyah, bahkan pernah diangkat menjadi khalifah dalam tarekat ini. Dengan demikian Hamzah (w. 1590) adalah orang Indonesia pertama yang kita ketahui secara pasti menganut Tarekat Qadiriyah.

Sufi lain yang juga terkenal di Indonesia adalah Syamsuddin (w. 1630).[47] Murid Hamzah yang menulis dalam bahasa Arab dan Melayu. Dia perumus ajaran Martabat tujuh pertama di Nusantara beserta pengaturan nafas pada waktu zikir (yang kemudian dianggap oleh Hamzah sebagai pengaruh yogi pranayama dari India).[48] Ajaran martabat tujuh merupakan adaptasi dari teori emanasi Ibn ‘Arabi yang tidak lama kemudian sangat populer di Indonesia. Ajaran ini berasal dari ulama besar asal Gujarat bernama Muhammad bin Fadhlullah Burhampuri yang mengarang kitab al-Tuhfah al-Mursalah ila Ruh al-Nabi.

Ajaran martabat tujuh Syamsuddin termasuk ajaran wujudiyah yang oleh Nuruddin al-Raniri dalam kitabnya Hujjatu al-Shiddiq lidaf’i al-Zindiq dianggap sebagai ajaran wujudiyah yang menegakkan tauhid (al-Muawahhidah), disamping ada ajaran wujudiyah yang dianggap menyimpang.[49]

Selanjutnya adalah Nuruddin al-Raniri[50] yang tidak kalah terkenalnya di Indonesia. Pedagang Belanda yang mula-mula datang ke Aceh menyebutnya Moorish Bishop (Uskup Orang Muslim) yang berkuasa selain tentang masalah keagamaan, tetapi juga masalah politik dan ekonomi. Al-Raniri memiliki banyak keahlian, sebagai seorang sufi, teolog, faqih, ahli hadis, sejarawan, ahli perbandingan agama, sastrawan, dan politisi. Ia juga seorang khalifah tarekat Rifa’iyah dan menyebarkannya ke wilayah Melayu. Di samping itu ia juga menganut tarekat Aydarusiyah dan Qadariyah. Ia banyak menulis masalah kalam dan tasawuf, menganut aliran Asy’ariyah dan menganut paham wahdat al-wujud yang moderat.

Al-Raniri merupakan tokoh tasawuf terakhir yang terdokumentasi sebagai pengaruh lansung tarekat yang berkembang di Indonesia dari India. Sepeninggalnya, cabang-cabang tarekat dari India berkembang dulu di Mekkah-Madinah baru kemudian dibawa ke Indonesia, diantaranya adalah Tarekat Syattariyah yang dibawa oleh Abdul Rauf Singkel.

Nama Abdul Rauf Singkel[51] menjadi terkenal di Indonesia (khususnya di Aceh) sebagai ahli Fiqhi dan seorang sufi yang mencari keseimbangan antara berbagai pandangan para pendahulu dengan mengajarkan zikir dan wirid syattariyah. Ketika ia kembali ke Aceh, murid-muridnya menyebarkan ide-idenya terutama tarekat Syattariyah, di antaranya Syaikh Abd. al-Muhyi, yang setelah belajar kepada Abd. Rauf di Aceh kembali ke Pamijahan Jawa Barat dan menyebarkan tarekat Syattariyah sampai ke Jawa Tengah sebagai salah satu kerajaan Islam yang menjadi pusat ortodoksi di mana hidup islami dan keulamaan sangat dihormati. Muridnya yang lain sekaligus khalifahnya dan tarekat Syattariyah adalah Burhanuddin dari Ulakan di mana suraunya menjadi pusat masalah keagamaan di Minangkabau sampai bangkitnya gerakan Paderi. Surau Ulakan juga berhasil melahirkan ulama Tuanku Nan Tuo, salah seorang pemimpin gerakan Paderi.[52]

Selain di Aceh, pusat penting lainnya juga berada di Jawa. Pada abad ke-18, yaitu kerajaan Banten yang merupakan kerajaan Islam Nusantara yang mengembangkan hubungan internasional, terutama di bawah Sultan Agung Tirtayasa, sehingga ulama-ulama dan kitab-kitab juga didatangkan ke Banten baik dari Aceh maupun dari negeri-negeri yang jauh seperti Gujarat, Yaman, ataupun negeri Arab. Di antara ulama yang kemudian lahir di Banten adalah Syaikh Yusuf al-Makassari.[53]

Syaikh Yusuf mengembara selama 22 tahun untuk menuntut ilmu keislaman melalui jaringan ulama Internasional. Tiga guru utamanya (Nuruddin, Ba Shayban, dan Ibrahim al-Kurani) adalah tokoh yang cenderung ortodoks, yang memengaruhi keintelektualan Syaikh Yusuf. Oleh karena itu, ketika ia pulang ke negerinya Sulawesi Selatan 1078 H/1667 M, ia ingin mensucikan Islam dari sisa-sisa kepercayaan animistik dan praktik-praktik tidak Islami lainnya. Syaikh Yusuf ingin memurnikan ajaran Islam sejalan dengan syariah yang dikombinasikan dengan pemahaman tasawuf.

Itulah ulama-ulama abad ke-17 dan 18 Masehi, berpusat lebih banyak di Sumatera, yang karyanya bersifat kosmologis, eskatologi, dan spekulasi metafisik, yang karya-karya aslinya baik menggunakan bahasa Arab atau Melayu. Juga berpusat di Banten, seperti Syaikh Yusuf al-Makassari dan yang lebih belakangan, Syaikh Nawawi al-Bantani dengan karya-karyanya memakai bahasa Arab. Sedang untuk daerah berbahasa Jawa, kitab-kitab tauhid banyak mempergunakan teks karya ulama Timur Tengah dengan bahasa Arab, walaupun nanti pada abad ke-20 mulai ada yang menerjemahkannya ke dalam bahasa Jawa atau Madura.

BAB III

PENUTUP

  1. KESIMPULAN

Dari uraian tentang perkembangan intelektual Islam (kalam, Fiqhi, tasawuf dan Tarekat) di atas, dapat penulis simpulkan beberapa hal sebagai berikut:

  1. Awal mula masuknya agama Islam di Indonesia, ternyata memiliki banyak pengaruh terhadap peradaban yang sampai sekarang masih bisa dirasakan. Berbagai perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam hal pemikiran atau intelektual telah melengkapi perkembangan bangsa Indonesia. Terutama adalah tokoh-tokoh yang membawa berbagai aliran ke Indonesia sebagai dakwah mereka, dan hal itu mampu mewarnai segala sisi agama Islam yang menjadi agama mayoritas di negeri ini. Di sinilah letak keunikan dan keindahan agama Islam yang berkembang dalam keberagaman.
  2. Dalam sejarah perkembangan intelektual Islam di Indonesia menyangkut Kalam, tasawuf, tarekat dan fiqhi terdapat beberapa tokoh yang terkenal berjasa dalam membumikan ajaran langit di Bumi Nusantara, diantaranya adalah: Malikuzh Zhahir, Hamzah al-Fansuri, Syamsuddin al-Sumatrani (Pasai), Abd. al-Rauf al-Jawi al-Fansuri al-Sinkili, Syaikh Muhammad Yusuf Abu al-Mahasin Hadiyallah Taj al-Khalwati al-Makassari.
  3. SARAN-SARAN

Beragamnya aliran memang didasari oleh beragamnya pemikiran manusia, namun itu bukanlah alasan untuk tidak bersatu. Dalam sejarah telah diajarkan masa lalu yang menjadi pelajaran bagi semua orang, dari sini seseorang bisa mencari tahu bahwa persatuan merupakan alasan mereka (pahlawan) berhasil membangun negeri ini. Oleh karena itu, jangan sampai perbedaan-perbedaan ini menjadi pemicu bentrok. Perlu diingat bahwa keberadaan kita sekarang merupakan sebuah kesempatan yang telah diperjuangkan orang-orang terdahulu. Bersatu, pahami dan saling menghargai, danTerimalah apapun perbedaanya.

DAFTAR PUSTAKA

Aceh, H. Aboebakar, Sekitar Masuknya Islam ke Indonesia, Solo: Cv. Ramadhani, 1985

A, Sirry, Mun’im, Sejarah Fiqih Islam. 1996

Ali, Fahmi, Merambah Jalan Baru Islam di Indonesia, Jakarta: Presindo, 1984

Ahmad, Hanafi “Teologi Islam (Ilmu Kalam) Penerbit Bulan Bintang, 2001

Azra, Azyumardi, Renaisans Islam Asia Tenggara Sejarah Wacana dan Kekuasaan, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 1999

Athoullah Ahmad, Antara Ilmu Akhlak dan Tasawuf, Serang: Saudara, 1995

Bruinessen, Martin van, Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat, Bandung: Mizan, 1995

Edyar, Busman, dkk (Ed.), Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Pustaka Asatruss, 2009

Fahmi,M. Islam Transendental: Menelusuri Jejak-jejak Pemikiran Kuntowijoyo, Yogyakarta: Pilar Religia, 2005

Hamid,  Juhri, Peranan Ulama Indonesia Dewasa Ini, Yogyakarta: Bina Usaha, 1984

Hadi Abdul W.M, Hamzah Fansuri, Risalah Tasawuf dan Puisi-puisinya, Bandung: Mizan, 1995

Hasyim, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, Jakarta: al-Ma’arif, 1981

Kuntowidjoyo, Paradigma Islam, Cet. II; Bandung: Mizan, 1991

Majid, Nicholas, Kaki Langit Peradaban Islam, Jakarta:Paramadina,1997

Mulyati, Hj. Sri, (et.al), Mengenal dan Memahami Tarekat-Tarekat muktabarah di Indoensia, Jakarta: Kencana, 2011

Soekanto, Soerjono, Sosiologi, Suatu Pengantar, Jakarta: Yayasan Penerbit UI, 1974

Sumardi, Mulyanto, (Ed), Agama, Masalah dan Pemikiran, Jakarta: Balitbang Agama, 1982

Supriyadi, Dedi, Sejarah Peradaban Islam, Bandung: Pustaka Setia, 2008

Tim Dit Bapera, Berbagai Pandangan Terhadap Komplikasi Hukum Islam, Jakarta: Yayasan Al-Hikmah, 1993

Tjandrasasmita Uka (Ed.), Sejarah Nasional Indonesia III, Jakarta: PN Balai Pustaka, 1984

Al-Usairy, Ahmad, Sejarah Islam, Sezak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX, Jakarta: Akbar Media, 2003

Yatim, Badri, Sejarah Islam di Indonesia, Jakarta: Depag, 1998

  1. Sebagai contoh, para sejarawan banyak yang mencatat suatu peristiwa di masa awal Islam yang memunculkan nama Afif al-Kindi. Dia adalah seorang usahawan yang sudah memiliki jaringan luas hingga ke kota-kota tetangga, hingga pada suatu saat menginjakkan kaki di Mekkah. Afif al-Kindi menjumpai al-Abbas (Paman Nabi Muhammad). Di tempat al-Abbas tersebut, Afif al-Kindi sempat menyaksikan nabi Muhammad saw., sedang shalat menghadap kiblat. Disitu juga ada Khadijah dan Ali bin Abi Thalib. Tidak jauh dari tempat mereka, Abu Lahab, Abu Jahal, dan Abu Sofyan sedang duduk-duduk. Saat Afif al-Kindi menanyakan agama yang mempunyai ritualitas tersebut, Al-Abbas menjawab bahwa itu adalah (agama) Muhammad putra Abdullah_saudara laki-lakinya_yang mengklaim dirinya seorang utusan Tuhan dan terobsesi menggulingkan Persia dan Romawi. Lihat Soerjono Soekanto, Sosiologi, Suatu Pengantar (Jakarta: Yayasan Penerbit UI, 1974), 217-218.

    Said Agil Siradj memaknai kisah Afif al-Kindi ini sebagai realitas peradaban islam yang tidak bisa lepas dari konstruksi budaya politik.

  2. Kecenderungan seperti ini dapat dibaca dalam Mulyanto Sumardi, (Ed), Agama, Masalah dan Pemikiran, (Jakarta: Balitbang Agama, 1982), 21

  3. Ikhtiar ini dimotori oleh para ilmua (guru besar) dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tahun 2003 (waktu itu masih bernama IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta). Konsep utama yang ditawarkannya dipublikasikannya ke dalam dua buku yang disunting oleh M. Amin Abdullah, yaitu: (1) Rekonstruksi Metodologi Ilmu-Ilmu Ke-Islaman dan (2) Menyatukan kembali ilmu-ilmu agama dan Umum.

  4. Kuntowijoyo lahir pada tanggal 18 September 1943. Setelah menyelesaikan SMA di Surakarta tahun 1962, Kuntowijoyo melanjutkan pendidikannya di Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada, dan selesai tahun 1969. Sebelumnya, dia menyelesaikan studi S-2 di The University of Connecticut, Amerika Serikat, tahun 1974. Disertasinya di Universitas Columbia, Social Change in an Agrarian Society: Madura 1950-1940, sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dengan kapasitasnya, doktor ilmu sejarah dari Columbia University ini, di Amerika Serikat, dijuluki sebagai seorang sejarawan beridentitas paripurna. Karena memang, dia menjalani hidup di beragam habitat dan identitas. Dia guru besar sejarah di Universitas Gadjah Mada. Beberapa bukunya yang mendapat acungan jempol dari berbagai kalangan intelektual seperti Paradigma Islam: Interpretasi untuk Aksi (1991), Metodologi Sejarah (1994), dan Radikalisme Petani (1993), Demokrasi dan Budaya (1994), Pengantar Ilmu Sejarah (1995), dan Identitas Politik Umat Islam (1997). Di luar sebagai penulis buku-buku serius, Kuntowijoyo juga seorang penulis non-fiksi; cerita pendeknya, Dilarang Mencintai BungaBunga (1968), memenangkan penghargaan pertama dari sebuah majalah sastra. Kemudian kumpulan cerpennya yang diberi judul sama, Dilarang Mencintai Bunga-Bunga, mendapat Penghargaan Sastra dari Pusat Bahasa (1994). Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan, mendapat penghargaan sebagai cerpen terbaik versi Harian Kompas berturut-turut pada 1995, 1996, dan 1997. Novel dengan judul Pasar meraih hadiah Panitia Hari Buku, 1972. Naskah dramanya berjudul Rumput-Rumput Danau Bento (1968) dan Topeng Kayu (1973) mendapatkan penghargaan dari Dewan Kesenian Jakarta. Kuntowijoyo meninggal dunia pada hari Selasa, 22 Pebruari 2005 di usia 62 tahun. M. Fahmi, Islam Transendental: Menelusuri Jejak-jejak Pemikiran Kuntowijoyo, (Yogyakarta: Pilar Religia, 2005).

  5. Ibid,

  6. Dr.Hj.Sri Mulyati, MA (et.al), Mengenal dan Memahami Tarekat-Tarekat muktabarah di Indoensia (Jakarta: Kencana, 2011), 5-6.

  7. Proses masuknya Islam ke Indonesia memunculkan beberapa pendapat. Para Tokoh yang mengemukakan pendapat itu diantaranya ada yang langsung mengetahui tentang masuk dan tersebarnya budaya serta ajaran agama Islam di Indonesia, ada pula yang melalui berbagai bentuk penelitian seperti yang dilakukan oleh orang-orang barat (eropa) yang datang ke Indonesia karena tugas atau dipekerjakan oleh pemerintahnya di Indonesia. Tokoh tokoh itu diantaranya, Marcopolo, Muhammad Ghor, Ibnu Bathuthah, Dego Lopez de Sequeira, Sir Richard Wainsted.

  8. Dr. Hj. Sri Mulyati, MA (et.al), Mengenal, 6.

  9. Pendapat ini dikemukakan oleh Crawfurd, Keyzer, Nieman, de Hollander, Syeh Muhammad Naquib Al-Attas dalam bukunya yang berjudul Islam dalam Sejarah Kebudayaan Melayu dan mayoritas tokoh-tokoh Islam di Indonesia seperti Hamka dan Abdullah bin Nuh. Bahkan Hamka menuduh bahwa teori yang mengatakan Islam datang dari India adalah sebagai sebuah bentuk propaganda, bahwa Islam yang datang ke Asia Tenggara itu tidak murni. Busman Edyar, dkk (Ed.), Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Pustaka Asatruss, 2009), 207

  10. Kerajaan Sriwijaya di Asia Tenggara dalam upayanya memperluas kekuasaannya ke Semenanjung Malaka sampai Kedah dapat dihubungkan dengan bukti-bukti prasasti 775, berita-berita Cina dan Arab abad ke-8 sampai ke-10 M. hal ini erat hubungannya dengan usaha penguasaan selat Malaka yang merupakan kunci bagi bagi pelayaran dan perdagangan internasional.

  11. Samudera Pasai merupakan kerajaan yang menjadikan dasar negaranya Islam Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Kerajaan Samudera Pasai ini dirintis oleh Malik Ash-Shaleh/Meurah Silo (659-688 H./12611289 M). Negeri ini makmur dan kaya, di dalamnya telah terdapat sistem pemerintahan yang teratur, seperti terdapatnya angkatan tentara laut dan darat. Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), 195.

  12. Mereka mendasarkan pada keterangan Marcopolo yang pernah singgah d untuk beberapa lama di Sumatra untuk menunggu angin pada tahun 1292 M. ketika itu ia menyaksikan bahwa Perlak di ujung Utara pulau Sumatra penduduknya telah memeluk agama Islam. Naman ia menyatakan bahwa Perlak merupakan satu-satunya daerah Islam di nusantara ketika itu. (Badri Yatim, Sejarah Islam di Indonesia, (Jakarta: Depag, 1998), 30.

  13. Pendukung teori ini, diantaranya adalah Dr. Gonda, Van Ronkel, Marrison, R.A. Kern, dan C.A.O. Van Nieuwinhuize. Menurut W.F. Stutterheim dalam bukunya “ De Islam en Zijn Komst in the Archipel,” Islam berasal dari Gujarat dengan dasar batu nisan sultan pertama dari kerajaan Samudera Pasai, yakni nisan al-Malik al-Saleh yang wafat pada tahun 1297. Dalam hal ini beliau berpendapat bahwa relif nisan tersebut bersifat Hinduistis yang mempunyai kesamaan dengan nisan yang terdapat di Gujarat. Ibid., 23

  14. Dedi Supriyadi., Sejarah Peradaban Islam, 191.

  15. Teori ini dikemukakan oleh Emanuel Godinho de Eradie seorang scientist Spanyol.

  16. Busman Edyar, dkk (Ed.), Sejarah Peradaban Islam, 187.

  17. Mengenai masuknya Islam ke Indonesia, ada satu kajian yakni seminar ilmiah yang diselenggarakan pada tahun 1963 di kota Medan, yang menghasilkan hal-hal sebagai berikut:

    1. Pertama kali Islam masuk ke Indonesia pada abad 1 H/7 M, langsung dari negeri Arab.
    2. Daerah pertama yang dimasuki Islam adalah pesisir sumatera Utara. Setelah itu masyarakat Islam membentuk kerajaan Islam Pertama yaitu Aceh. Para dai yang pertama, mayoritas adalah para pedagang. Pada saaat itu dakwah disebarkan secara damai. Lihat Ahmad Al-Usairy, Sejarah Islam, Sezak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX, (Jakarta: Akbar Media, 2003), 336.

  18. Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Press, 2007), 191-192

  19. Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Battutah, lahir di Tangier, Maroko antara tahun 1304 dan 1307. Adalah seorang pengembara Berber Maroko. Pada usia sekitar 20 tahun ibn Battutah berangkat haji. Setelah selesai dia melanjutkan perjalanannya hingga melintasi 120.000 kilometer sepanjang dunia muslim (sekitar 44 Negara). Atas dorongan Sultan Maroko ibn Battutah mendiktekan beberapa perjalanan pentingnya kepada seorang sarjana bernama Ibn Juzay, yang ditemuinya ketika berada di Iberia. Kitab Rihlah merupakan catatan perjalanan dunia terlengkap yang berasal dari abad ke-14.

  20. Prof. Dr. H. Aboebakar Aceh, Sekitar Masuknya Islam ke Indonesia, (Solo: Cv. Ramadhani, 1985), 31.

  21. Ibid, 32

  22. Dilihat dari sudut bahasa, fiqih berasal dari kata faqaha yang berarti “memahami” dan “mengerti”. Sedangkan menurut istilah syar’I, ilmu fiqih dimaksudkan sebagai ilmu yang berbicara tentang hukum-hukum syar’i amali (praktis) yang penetapannya diupayakan melalui pemahaman yang mendalam terhadap dalil-dalil yang terperinci.

    Secara definitif, fiqih berarti ilmu tentang hukum-hukum syar’i yang bersifat amaliah yang digali dan ditemukan dari dalil-dalil yang tafsili. Dalam definisi ini fiqih diibaratkan dengan ilmu karena fiqih itu tidak sama dengan ilmu seperti disebutkan diatas, fiqih itu bersifat dzanni. Fiqih adalah apa yang dapat dicapai oleh mujtahid dengan dzannya, sedangkan ilmu tidak bersifat dzanni seperti fiqih. Namun karena dzanni ini kuat, maka ia mendekati kepada ilmu. Karenanya definisi ilmu digunakan juga untuk fiqih.

  23. Sirry,Mun’imA, Sejarah Fiqih Islam. 1996

  24. Imam Syafii lahir di Gaza (dekat Palestina) pada tahun meninggalnya Imam Abu Hanifah, 150 H dan wafat tahun 204 H.

  25. Kita lihat misalnya di Aceh ada Syekh Abdurrahman Singkil, di Kalimantan ada Syekh Arsad al-Banjar, di Sumatera ada Syekh Abdussalam al-Falinbani, di Jawa ada Syekh Nawawi Banten, Syekh Saleh Darat As-Samarani dan seterusnya, bahkan ulama generasi berikutnya pun seluruhnya adalah pengikut mazhab Syafii.

  26. Kuntowidjoyo, Paradigma Islam, (Cet. II; Bandung: Mizan, 1991) hal 35

  27. Dalam pidatonya tahun 1951, Hazairin telah mempersoalkan kemungkinan kita di Indonesia mendirikan mazhab kita sendiri, Mazhab Nasional dalam lapangan yang langsung mempunyai kepentingan kemasyarakatan. Ini menunjukan bahwa pola pemikiran pembaharuan di Indonesia ini selalu melihat kepentingan negara dan masyarakat, agar berjalan secara baik dan benar. Penegasan Huzairin ini mengandung beberapa hal yang fundamental bagi pembaharuan hukum Islam di Indonesia. 1. Perlu memberi corak kenasionalan bagi perkembangan hukum Islam di Indonesia dengan merangkumnya dalam satu Mazhab Indonesia guna menonjolkan hal-hal yang sifatnya spesifik. 2. Dalam rangka memberikan identitas Nasional terhadap hukum Islam diadakan pembedaan dalam dua bidang : a. Hukum Islam yang berkenaan dengan masalah ibadah, yang sifatnya tidak langsung bersangkut paut dengan kemasyarakatan. Ini boleh diadakan pembaharuan, karena tidak memberikan pengaruh langsung kepada masyarakat yang selama ini dianggap sesuatu yang sangat benar, yang bila diadakan perobahan dapat menimbulkan kerawanan dan kekacauan bagi masyarakat. b. Hukum Islam yang langsung berkenaan dengan soal kemasyarakatan. Dari bidang ini boleh didakan pembaharuan yang sifatnya bertahap dari satu masalah ke masalah lain, dan kalau ini diadakan perubahan tidak terlalu terasa oleh masyarakat, karena dianggap bukan hal-hal yang prinsip dan tidak membatalkan ibadah mereka. 3. Mazhab Syafii masih hidup dan dipertahankan untuk bidang hukum yang berkenaan dengan ibadah, sedangkan untuk bidang yang berkenaan dengan soal kemasyarakatan, didirikan Mazhab Nasional dan melepaskan diri dari mazhab Syafii dalam artian mengembangkan, mengubah dan memperbaiki mazhab itu, misalnya dalam soal kesahihan macam-macam syirkah. 4. Untuk membentuk Mazhab Nasional diperlukan lahirnya Mazhab-Mazhab Mujtahid baru yang bercorak nasional untuk melakukan ijtihad kelompok dan peranan hukum Islam yang sesuai dengan kondisi dan situasi di Indonesia. Lihat Fahmi Ali, Merambah Jalan Baru Islam di Indonesia, (Cet. I; Jakarta: Presindo, 1984), 88.

  28. beliau adalah mantan Dekan Fakultas Syariah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Beliau menyatakan bahwa sangat diperlukan lahirnya ijtihad baru yang dilakukan dengan mempelajari syariat Islam. Karena itu maksud mempelajari syariat Islam di Universitas Islam sekarang ini supaya fikih Islam dapat menampung kemaslahatan masyarakat dan dapat menjadi pendiri utama bagi perkembangan hukum di tanah air. Maksudnya, supaya dapat menyusun fikih baru yang diterapkan sesuai dengan tabiat dan watak Indonesia.

  29. Beliau adalah Menteri Agama RI pada saat. Munawir selalu memberikan konsep-konsep pemikirannya dalam rangka pembaharuan hukum Islam di Indonesia, buktinya ia pernah menjelaskan tentang sistem pembagian warisan di Solo antara laki-laki dan perempuan Mengenai cara mewujudkannya, dikemukakan bahwa kita harus menggali hukum-hukum syariat dari sumber asal (Alquran dan Hadis), dari kitab pokok yang ditulis dalam masa ijtihad dari semua mazhab, sunni, syiah dhahiri dan sebagainya. Bahkan kita tidak boleh hanya membandingkan antara satu fikih dengan fikih yang lain, tapi juga dengan perundang-undangan buatan manusia.

  30. Tim Dit Bapera, Berbagai Pandangan Terhadap Komplikasi Hukum Islam, (Jakarta: Yayasan Al-Hikmah, 1993) hal 7

  31. Juhri Hamid,  Peranan Ulama Indonesia Dewasa Ini (Cet. II  Yogyakarta: Bina Usaha, 1984) hal  27

  32. Dalam praktiknya, ketiga ilmu itu menyatu, hanya gelarnya yang tampak berbeda. Sumber ketiganya juga sama, cuma penekanannya yang lain; kalau akidah af’al hati, syariah af’al tubuh lahiriyah, maka tasawuf adalah penghayatan terhadap ibadah.

  33. Pada mulanya kedua aliran tersebut berkembang hanya dalam segi teologinya, lambat laun bergulat pada bidang politik. Hal ini terjadi ketika golongan Syi’ah yang pernah menjadi kekuatan politik di Nusantara pada kerajaan Perlak dengan sultannya Alauddin Maulana Ali Mughayat Syah (303-305 H/915-918 M), ditumbangkan oleh kelompok Sunni dengan sultannya Mahdum Alauddin Abd. Qodir Johan (306-310 H/918-922 M). Dalam kekalahan ini, orang Syi’ah mengadakan perlawanan. Puncaknya, pada masa Sultan Mahdum Alauddin Abd. Malik Syah Johan Berdaulat (334-362 H/956-983 M), orang Syi’ah memaksakan perdamaian dengan memecah kerajaan Perlak menjadi dua yaitu: 1. Perlak pesisir, dikuasai Syi’ah dengan sultannya Alauddin Sayid Maulana Syah. 2. Perlak pedalaman, dikuasai Sunni dengan sultannya Mahdun Alauddin Malik Ibrahim Syah Johan Berdaulat (365-402 H/986-1023 M). Setelah sultan dari golongan Syi’ah wafat, sultan dari golongan Sunni berhasil menyatukan Perlak. Hal ini berlanjut dengan dipersatukannya kerajaan Perlak dengan Samudra Pasai dengan raja pertamanya Malik as-Saleh. Lihat A. Hasyim, Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Indonesia, (Jakarta: al-Ma’arif, 1981), 199-201.

  34. Secara harfiah, kata-kata Arab kalam, berarti “pembicaraan”. Tetapi sebagai istilah, kalam tidaklah dimaksudkan “pembicaraan” dalam pengertian sehari-hari, melainkan dalam pengertian pembicaraan yang bernalar dengan menggunakan logika. Maka ciri utama Ilmu Kalam ialah rasionalitas atau logika. Karena kata-kata kalam sendiri memang dimaksudkan sebagai ter jemahan kata dan istilah Yunani logos yang juga secara harfiah berarti “pembicaraan”, tapi yang dari kata itulah terambil kata logika dan logis sebagai derivasinya. Kata Yunani logos juga disalin ke dalam kata Arab manthiq, sehingga ilmu logika, khususnya logika formal atau silogisme ciptaan Aristoteles dinamakan Ilmu Mantiq (‘Ilm al-Mantiq). Maka kata Arab “manthiqi” berarti “logis”.

  35. misalnya. (Dalam pengertian Teologia dalam agama kristen, Ilmu Fiqh akan termasuk Teologia). Karena itu sebagian kalangan ahli yang menghendaki pengertian yang lebih persis akan menerjemahkan Ilmu Kalam sebagai Teologia dialektis atau Teologia Rasional, dan mereka melihatnya sebagai suatu disiplin yang sangat khas Islam.

  36. Nama lengkapnya adalah Abul al-Hasan Ali bin Ismail al-Asy’ari keturunan dari Abu Musa al-Asy’ari, salah seorang perantara dalam sengketa antara Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah. Al-Asy’ari lahir tahun 260 H/873 M dan wafat pada tahun 324 H/935 M. Al-Asy’ari lahir di Basra, namun sebagian besar hidupnya di Baghdad. pada waktu kecilnya ia berguru pada seorang Mu’tazilah terkenal, yaitu Al-Jubbai, mempelajari ajaran-ajaran Muktazilah dan mendalaminya. Aliran ini diikutinya terus ampai berusia 40 tahun, dan tidak sedikit dari hidupnya digunakan untuk mengarang buku-buku kemuktazilahan. namun pada tahun 912 dia mengumumkan keluar dari paham Mu’tazilah, dan mendirikan teologi baru yang kemudian dikenal sebagai Asy’ariah.Ketika mencapai usia 40 tahun ia bersembunyi di rumahnya selama 15 hari, kemudian pergi ke Masjid Basrah. Di depan banyak orang ia menyatakan bahwa ia mula-mula mengatakan bahwa Quran adalah makhluk; Allah Swt tidak dapat dilihat mata kepala; perbuatan buruk adalah manusia sendiri yang memperbuatnya (semua pendapat aliran Muktazilah). Kemudian ia mengatakan: “saya tidak lagi memegangi pendapat-pendapat tersebut; saya harus menolak paham-paham orang Muktazilah dan menunjukkan keburukan-keburukan dan kelemahan-kelemahanya”. Hanafi Ahmad: “Teologi Islam (Ilmu Kalam) (Penerbit Bulan Bintang, 2001,) ISBN : 979-418-074-2”, 65-77,

  37. Ibid,

  38. adalah mantan Menteri Agama Indonesia pada Kabinet Sjahrir I dan Kabinet Sjahrir II. Fakultas Filsafat, Universitas Kairo, Mesir (1938) Universitas Sorbonne, Paris (Doktor, 1956) Guru pada Islamitische Middelbaare School (Pesantren Luhur), Surakarta (1939-1941) Guru Besar Fakultas Hukum UI Direktur kantor Rabitah Alam Islami, Jakarta. H.M. Rasyidi, lulusan lembaga pendidikan tinggi Islam di Mesir yang mmelanjutkan ke Paris, dan kemudian memperoleh pengalaman mengajar di Kanada. Lihat Nicholas Majid, Kaki Langit Peradaban Islam, (Jakarta:Paramadina,1997),.61

    Pemikirannya dalam hal menonjolnya perbedaan pendapat antara Asy’ariyah dan Mu’tazilah, menurutnya bahwa tidak ada agama yang mengagungkan akal seperti Islam, tetapi dengan menggambarkan bahwa akal dapat mengetahui baik dan buruk, sedangkan wahyu hanya membuat nilai yang dihasilkan pikiran manusia bersifat absolute-universal, berarti meremehkan ayat-ayat al-Qur’an seperti:

    …والله يعلم وانتم لاتعلمون

     “Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”)Q.S.Al-Baqarah:232)

  39. lahir pada hari Selasa 23 September 1919 di Sumatera. Ayahnya, Jabar Ahmad adalah seorang ulama yang mengetahui kitab-kitab Jawi.Pendidikan formalnya dimulai dari sekolah Belanda HIS. Setelah tujuh tahun di HIS. Selama tujuh tahun, Harun belajar bahasa Belanda dan ilmu pengetahuan umum di HIS itu, dia berada dalam lingkungan disiplin yang ketat. Di lingkungan keluarga, harun memulai pendidikan Agama dari lingkungan keluarganya dengan belajar mengaji, shalat dan ibadah lainnya.Beliau meneruskan ke MIK (Modern Islamietishe Kweekschool) di Bukittinggi pada tahun 1934. pendidikannya lalu diteruskan ke Universitas Al-Azhar, Mesir. Sambil kuliah di Al-Azhar beliau kuliah juga di Universitas amerika di Mesir. Pendidikannya lalu dilanjutkan ke Mc. Gill, Kanada pada tahun 1962.

    Pemikiran Harun Nasution terkait pembahruan ilmu Kalam atau Teologi bahwa Pada dasarnya dibangun atas asumsi bahwa keterbelakangan dan kemunduran umat Islam Indonesia (juga di mana saja) adalah disebabkan “ada yang salah” dalam teologi mereka. Menurutnya, umat Islam hendaklah mengubah teologi yang berwatak free-will rasional, serta mandiri. Tidak heran jika teori modernisasi ini selanjutnya menemukan teologi dalam khazanah islam klasik sendiri yakni teologi Mu’tazilah.

  40. Kata-kata tasawuf dalam bahasa Arab tidak terdapat qiyas dan isytiqaq (ukuran dan pengembalian), yang jelas bahwa kata-kata ini semacam laqab (julukan, sebutan, gelar). Gelar ini diperuntukan bagi perorangan dengan istilah sufi, dan bagi jamaah disebut sufiyah. Orang sudah mencapai derajat (usaha ke arah) tasawuf disebut mutasawwif, sedangkan bagi jamaah disebut mutasawwifah. Athoullah Ahmad, Antara Ilmu Akhlak dan Tasawuf, (Serang: Saudara, 1995), 109

  41. Kedatangan ahli tasawuf di Indonesia diperkirakan terutama sejak abad ke-13 yaitu masa perkembangan dan persebaran ahli-ahli tasawuf dari Persia dan India. Perkembangan tasawuf yang paling nyata adalah di Sumatra dan Jawa yaitu abad ke-16 dan ke-17. Uka Tjandrasasmita (Ed.), Sejarah Nasional Indonesia III, (Jakarta: PN Balai Pustaka, 1984), 218.

  42. Busman Edyar, dkk (Ed), Sejarah Peradaban, 208.

  43. Ibid, 12

  44. Martin van Bruinessen, Kitab Kuning Pesantren dan Tarekat, (Bandung: Mizan, 1995), 188

  45. Beliau merupakan cendekiawan ulama, sastrawan, dan budayawan. Hamzah hidup di pertengahan abad ke-17. Ia berasal dari Fansur (sebutan orang Arab terhadap kota Barus, sekarang kota kecil di pantai Barat Sumatera antara Sibolga dan Singkel). Kota Barus sudah dikenal sejak abad ke-2 Masehi, konon kapal Fir’aun datang ke Barus untuk membeli kapur barus untuk keperluan membuat ramuan salah satu mummi.

    Selain sebagai seorang cendekiawan, sastrawan, dan budayawan, Hamzah juga pelopor dan perintis bidang kerohanian, menguasai ilmu tafsir, filsafat, bahasa, sastra, dan juga seorang pembaharu. Kritik-kritik yang tajam terhadap perilaku politik dan moral raja, para bangsawan dan orang kaya menempatkannya sebagai seorang intelektual yang berani di zamannya. Hal ini menyebabkan kalangan istana Aceh tidak begitu menyukai kegiatan Hamzah dan para pengikutnya. Oleh karena itu, dua sumber sejarah Aceh Hikayat Aceh dan Bustan al-Salatin yang ditulis atas perintah Sultan Aceh tidak sedikitpun menyebut namanya.

  46. Beliau adalah seorang keturunan ulama. Ayahnya bernama Abdullah al-Sumatrani. Nama lengkapnya al-Arief Billah al-Syaikh Syamsuddin al-Sumatrani. Ia berasal dari Pasai. Ia belajar kesufian kepada Syaikh Hamzah Fansuri dan pernah belajar kepada Sunan Bonang di Jawa. Ia hidup dan menjadi mufti pada zaman Sultan Alauddin Riayat Syah Sayidil Mukkamil dan Sultan Iskandar Muda. Mahkota Alam Syah, dua orang sultan besar kerajaan Aceh Darussalam. Adapula yang menyebutkan jabatannya sebagai Perdana Menteri atau Qadhi Malikul Adil, jabatan kedua sesudah sultan. Ia menjadi seorang mahaguru, ahli politik, ahli syariat dan hakikat. Beliau ulama yang menulis kitab-kitab ilmiah sesudah Hamzah Fansuri, terutama bidang keagamaan.

  47. Abdul Hadi W.M, Hamzah Fansuri, Risalah Tasawuf dan Puisi-puisinya, (Bandung: Mizan, 1995), Cet. I, 9

  48. Ibid,

  49. Nama lengkapnya adalah Nuruddin bin Ali bin Hasanji bin Muhammad Hamid al-Raniri, berasal dari keluarga Arab Ranir (Rander) Gujarat. Mengenai kelahirannya tidak diketahui, wafat tahun 1068 H/1658 M. Dikatakan, ibunya seorang Melayu, ayahnya berasal dari keluarga imigran Hadromi. Juga tidak ada kejelasan kapan al-Raniri datang pertama kali ke wilayah Melayu, tetapi al-Raniri pernah menjabat sebagai Syaikh al-Islam atau mufti di kerajaan Aceh pada zaman Sultan Iskandar Sani dan Sultanah Sofiatu al-Din.

  50. Dilahirkan di Singkel, sebelah Utara Fansur di pantai Barat Aceh. Ia diangkat menjadi mufti kesultanan Aceh pada masa Sultanah Zakiyat al-Din (1678-1688 M). Ia menuntut ilmu diberbagai tempat di Timur Tengah sepanjang jalur haji dari Yaman ke Makkah, Zabid, Mukha, Tayy, Bayt al-Faqih, Maza. Kemudian melintasi gurun pasir Arabai, belajar di Dukha, Qatar, kemudian ia melanjutkan ke arah barat belajar di Jeddah, Makkah, terakhir di Madinah. Abd Rauf mempelajari ilmu lahir dan ilmu batin. Ilmu lahir adalah tata bahasa, membaca Alquran, tafsir, hadis, fiqih, sedang ilmu batin adalah ilmu kalam, tasawuf, kemudian berafiliasi dengan tarekat-tarekat Syattariah, Naqsyabandiyah, Qadiriyah, dan Chistiyah.

  51. Azyumardi Azra, Renaisans Islam Asia Tenggara Sejarah Wacana dan Kekuasaan, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 1999), hlm. 136.

  52. Dikenal di Makassar dengan gelarnya “Tuanta Samalaka,” ia dilahirkan pada tahun 1036 H/1626 M, termasuk keluarga kerajaan Gowa yang memeluk Islam sekitar 23 tahun sebelum kelahiran Syaikh Yusuf. Sejak kecil ia belajar ilmu-ilmu Islam, kemudian mendalami juga ilmu tasawuf. Sekitar tahun 1054 H/1644 M, ia meninggalkan Makassar menuju Banten, belajar dengan beberapa guru di Banten, juga menjalani hubungan baik dengan keluarga bangsawan Banten. Setelah itu ia melanjutkan ke Aceh belajar kepada Syaikh Nuruddin al-Raniri. Syaikh Yusuf membagi kaum beriman ke dalam empat kategori yaitu:

    • Orang yang hanya mengucapkan syahadat tanpa benar-benar beriman, dinamakan munafik.
    • Orang yang mengucapkan syahadat dan menamakannya dalam jiwa, dinamakan kaum beriman yang awam (al-mu’min al-awwam).
    • Orang yang beriman yang benar-benar menyadari implikasi lahir dan batin dari pernyataan keimanan dalam kehidupan mereka, dinamakan golongan elit (ahl al-khawwash).
    • Kategori tertinggi, orang beriman yang ke luar dari golongan ketiga dengan jalan mengitensifkan syahadat mereka terutama dengan mengamalkan tasawuf dengan tujuan lebih dekat dengan Tuhan. Mereka dinamakan “yang terpilih dari golongan elit” (khas al-khawwash). Lihat Dr. Hj. Sri Mulyati, MA (et.al), Mengenal, 16-21.

Perkembangan Intelektual Islam (kalam, Fiqhi, tasawuf dan Tarekat) di Indonesia
Tag pada:        

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *