Sejarah Sosial keturunan dalam Hukum Keluarga

Oleh: Usman Jayadi (Penghulu ahli Muda)

BAB I

PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG

Penciptaan manusia[1] di muka bumi ini mempunyai misi yang jelas dan pasti. Ada tiga misi yang bersifat given yang diemban manusia yaitu misi utama untuk beribadah[2] Misi fungsional sebagai khalifah[3] dan misi operasional sebagai pemakmur bumi.[4] Jika Allah adalah sang pencipta seluruh jagad raya ini maka manusia sebagai khalifahnya berkewajiban untuk memakmurkan jagad raya itu, maka disyariatkanlah pernikahan sebagai salah satu bentuk pemakmuran itu. Pernikahan merupakan salah satu ketentuan Allah yang umum berlaku kepada semua makhluk. Bentuk pernikahan ini telah memberikan jalan untuk memelihara keturunan dengan baik.[5]

Dalam Islam, tujuan pernikahan adalah untuk membentuk Rumah Tangga yang sakinah, mawaddah, warrahmah yang salah satunya adalah memperbanyak keturunan yang shaleh.[6] Rasulullah saw., menganjurkan kepada ummatnya agar memperbanyak keturunan dari umat Islam akan merupakan suatu kebanggaan dibandingkan dengan umat atau pengikut Nabi yang lainnya.[7] Dalam kitab al-Usrah fi al-Islam(Keluarga dalam Islam) karya Prof. Musthafa Abdul Wahid dikatakan bahwa: “al-Qur’an menjelaskan bahwa para nabi…yang menjadi contoh ideal…telah mengikatkan diri dengan sebuah keluarga dan memohon dikaruniai anak (keturunan)”.[8]

Keberadaan anak (keturunan) dalam keluarga merupakan sesuatu yang sangat berarti. Anak memiliki arti yang berbeda-beda bagi setiap orang. Anak merupakan penyambung keturunan, sebagai investasi masa depan, dan anak merupakan harapan untuk menjadi sandaran di kala usia lanjut. Ia dianggap sebagai modal untuk meningkatkan peringkat hidup sehingga dapat mengontrol status social orang tua. Anak merupakan pemegang keistimewaan orang tua, waktu orang tua masih hidup, anak sebagai penenang dan sewaktu orang tua telah meninggal, anak adalah lambang penerus dan lambang keabadian. Anak mewarisi tanda-tanda kesamaan dengan orang tuanya termasuk ciri khas baik maupun buruk, tinggi, maupun rendah. Anak adalah belahan jiwa dan potongan daging orang tuanya.[9]

Menurut J. Satrio, S.H. keturunan sama dengan nasab adalah hubungan antara orang yang satudengan orang tua atau leluhurnya ke atas.[10]keturunan yang artinya pertalian atau perhubunganmerupakan indikasi yang dapat menentukan asal-usul seorang manusia dalampertalian darahnya. Artinya anak itu sah mempunyai bapak danmempunyai ibu. Akan tetapi, kalau anak itu lahir di luar pernikahan yang sah,maka anak itu statusnya menjadi tidak jelas hanya mempunyai ibu, tetapitidak mempunyai bapak secara hukum.[11]

Bila ditelusuri dalam al-Qur’an, konsep tentang anak (keturunan) disebut berulang kali dengan berbagai derivasi kata yang beragam. Misalnya dengan kata zurriyyah sebagaimana termaktub dalam tamsil Surat al-Furqan [5]: 74,[12] dan Surah an-Nisa [4]: 9.[13] Selain itu, konsepsi tentang anak (keturunan) dalam hukum keluarga Islam di Indonesia termaktub dalam Undang-undang nomor 1 tahun 1974pasal 42, 43, 44 mempunyai beberapa penyebutan, seperti: anak sah, anak luar kawin dan anak angkat (BW: anak adopsi).

Semua terminologi tentang Anak (keturunan), bila ditelaah secara mendalam akan saling menguatkan untuk membentuk konsepsi tentang Anak (keturunan). Dalam konteks inilah memerlukan pemahaman utuh dalam kaitannya dengan pandangan al-Qur’an dan al-Hadits, pandangan ulama-ulama dan pandangan agama serta pandangan BW, dan perlindungan anak menurut Islam dan Undang-undang yang perlu penulis tonjolkan dalam makalah ini.

  1. RUMUSAN MASALAH

Dari latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi penekanan dalam makalah ini adalah “Sejarah Sosial keturunan dalam Hukum Keluarga” dengan rumusan masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana Konsep anak (Keturunan) menurut al-Qur’an dan al-Hadits serta pandangan-pandangan Ulama dan BW?
  2. Bagaimana perlindungan anak dalam perspektif Hukum Islam dan BW?

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Konsep Tentang Keturunan
  2. Term-term al-Qur’an tentang Keturunan

Kata “anak” atau “keturunan” dalam Ensiklopedi hukum Islam didefinisikan sebagai orang yang lahir dalam rahim ibu, baik laki-laki maupun perempuan atau khunsa yang merupakan hasil persetubuhan dua lawan jenis. Menurut sumber ini, pengertian anak semata-mata dinisbatkan pada konteks kelahiran dan posisinya sebagai seorang laki-laki atau perempuan. Nasab atau keturunan yang artinya pertalian atau perhubungan merupakan indikasi yang dapat menentukan asal-usul seorang manusia dalam pertalian darahnya. Disyariatkannya pernikahan adalah untuk menentukan keturunan menurut Islam agar anak yang lahir dengan jalan pernikahan yang sah memiliki status yang jelas. Artinya anak itu sah mempunyai bapak dan mempunyai ibu. Akan tetapi, kalau anak itu lahir di uar pernikahan yang sah, maka anak itu statusnya menjadi tidak jelas hanya mempunyai ibu, tetapi tidak mempunyai bapak secara hukum.[14] Al Qur’an sendiri mendifinikan anak dengan istilah yang beragam. Term-term tersebut akan diuraikan sebagai berikut:

  1. al-walad.

Al Qur’an sering menggunakan kata al-walad untuk menyebut anak. Kata al-walad[15]dengan segala bentuk derivasinya terulang di dalam Al Qur’ansebanyak 104 kali.[16] Dalam bahasa Arab kata walad jamaknya awlad, berarti anak yang dilahirkan oleh orangtuanya, baik berjenis kelamin laki-laki maupun perempuan, besar atau kecil, baik untuk mufrad (tunggal), tatsniyah (dua) maupun jama’ (banyak). Karenanya, jika anak belum lahir, berarti ia belum dapat disebut sebagai al-walad atau al-mawlud, melainkan al-janin, yang secara etimologis terambil dari kata janna-yajunnu, berarti al-mastur dan al-khafiy yakni sesuatu yang tertutup dan tersembunyi (dalam rahim sang ibu).[17]

  1. Ibn atau Ibnat

Al Qur’anjuga menggunakan kata ibnatau ibnat untuk menyebut anak. Yang diulang sebanyak 165 kali.[18]Dari kedua kata ini, terbentuklah kata bani yang dipakai al-Qur’an untuk menyebut kaitan keluarga Besar semisal Bani Israil dan Bani Adam.[19] Ada juga yang mengatakan bahwa lafaz ibn menunjuk pada pengertian anak laki-laki yang tidak ada hubungan nasab, yakni anak angkat,[20] sedangkan kata ibnat atau disebut juga bint, jamaknya banat, berarti merujuk pada pengertian anak perempuan.[21]

  1. Dzurriyyah

Al Qur’anjuga menggunakan kata dzurriyyah untuk menyebut anak cucu atau keturunan. Kata tersebut terulangdalam Al Qur’an sampai32(tiga puluh dua)kali.[22] Sebagian besar ayatnya berkaitan dengan masalah harapan atau doa orangtua untuk memperoleh anak keturunan yang baik.[23] Sebagian lagi berkaitan dengan peringatan Allah agar jangan sampai meninggalkan anak-anak yang bermasalah, sebagian lagi berkaitan dengan masalah balasan yang akan diterima oleh orangtua yang memiliki anak-anak yang tetap kokoh dalam keimanannya.

  1. Hafadah

Dalam Al Qur’an, term hafadah bentuk jamak dari hafid, dipakai untuk menunjukkan pengertian cucu (al-asbath) baik untuk cucu yang masih hubungan kerabat atau orang lain. Kata tersebut merupakan derivasi dari kata hafada yang berarti berkhidmah (melayani) dengan cepat dan tulus. Ini memberikan isyarat bahwa anak cucu sudah semestinya dapat berkhidmat kepada orangtuanya secara tulus, mengingat orangtualah yang menjadi sebab bagi anak dan cucu terlahir ke dunia. Dalam konteks ini Q.S, an-nahl/16: 72 menyatakan:

 

Terjemahnya:

“Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari ni`mat Allah?” (Q.S al-Nahl/16: 72)

Selain keempat istilah tersebut, al-Qur’an juga memakai kata athfal, aqib, asbat, ghulam, ghilman dan Rabaib.[24]Beragam defenisi tentang anak (keturunan) yang diuraikan di atas, memberikan isyarat bahwa betapa al-Qur’an sangat memperhatikan kondisi sosial anak, baik yang menyangkut kedudukan anak, proses pendidikan dan pemeliharaan anak, hak-hak anak, hukum-hukum yang terkait dengan anak, maupun cara berinteraksi yang baik.

Dengan demikian, anak (keturunan) merupakan makhluk sosial yang tidak boleh dipandang sebelah mata, tetapi dia merupakan amanah Allah sekaligus ujian bagi orang tua dalam rangka memakmurkan kehidupan di bumi ini.

  1. Pandangan Fiqhi tentang Keturunan

Dalam persfektif fiqhi, keturunan memiliki arti yang sangat pentingkarena dengan adanya keturunan itulah dapat diketahui hubungannasab antara anak dengan ayahnya.[25]Dalam fikih, seorang anak dapat dikatakan sah memiliki hubungan nasabdengan ayahnya jika terlahir dari perkawinan yang sah. Sebaliknya anak yangterlahir di luar perkawinan yang sah, tidak dapat disebut dengan anak yangsah. Biasa disebut dengan anak zina atau anak di luar perkawinan yang sah.[26]

Asal usul seorang anak (nasab) dapat diketahui dari salah satu tigahal, yaitu :

  1. Al-Firasy, yaitu berdasarkan kelahiran karena adanya perkawinan yangsah; dalam Q.S. An-Nahl/16: 72 Allah berfirman:

 

Terjemahnya:

“Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak-anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik”.[27]

  1. dengan cara iqrar, yaitu pengakuan yang dilakukan oleh seseorang untukmenyatakan bahwa anak tersebut adalah anaknya;
  2. dengan cara bayyinah, yakni dengan cara pembuktian bahwa berdasarkanbukti-bukti yang sah.[28]

Untuk melegalisasi status anak yang sah, ada empat syarat yang harusdipenuhi, yaitu:

  1. Kehamilan bagi seorang istri bukan hal yang mustahil, artinya normal dan wajar untuk hamil. Ini adalah syarat yang disetujui oleh mayoritas Ulama’ kecuali Imam Hanafi. Menurutnya, meskipun suami istri tidak melakukan hubungan seksual, apabila anak lahir dari seorang istri yang dikawini secara sah, maka anak tersebut adalah anak sah.
  2. Tenggang waktu kelahiran dengan pelaksanaan perkawinan sedikitnya enam bulan sejak perkawinan dilaksanakan.[29]AllahSWT. Berfirman dalam Q.S. Al-Ahqaf/46:15 sebagai berikut:

 

Terjemahnya:

“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan….”(Q.S. Al-Ahqaf/46:15).[30]

Ini menujukkan bahwa masa hamil paling sedikit adalah enam bulan, karena dalam ayat laindisebutkan bahwa menyapih anak itu ketika ia berumur dua tahun (duapuluh empat bulan). Allah SWT. Berfirman dalam Q.S. Luqman/31:14 berikut:

وَوَصَّيۡنَا ٱلۡإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيۡهِ حَمَلَتۡهُ أُمُّهُۥ وَهۡنًا عَلَىٰ وَهۡنٖ وَفِصَٰلُهُۥ فِي عَامَيۡنِ أَنِ ٱشۡكُرۡ لِي وَلِوَٰلِدَيۡكَ إِلَيَّ ٱلۡمَصِيرُ

Terjemahnya:

“dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua orang ibu bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun…”(Q.S. Luqman/31:14).[31]

Jika diambil waktu dua tahun (selambat-lambatnya waktu menyapih) dariwaktu tiga puluh bulan, maka yang tersisa adalah enam bulan, dan itulahmasa minimal kehamilan. Ilmu kedokteran modern menguatkan pendapatini, dan para ahli hukum Perancis pun menggunakanl pendapat ini.

  1. Anak yang lahir terjadi dalam waktu kurang dari masa sepanjang kehamilan.[32]
  2. suami tidak mengingkari anak tersebut melalui lembaga li’an. Jika seorang laki-laki ragu-ragu tentang batas minimal tidak terpenuhi dalam masa kehamilan atas batas maksimal kehamilan terlampaui, maka ada alasan bagi suami untuk mengingkari anak yang dikandung oleh istrinya dengan cara li’an.[33]
  3. Pandangan KHI dan UUP tentang Anak (Keturunan)

Seperti diuraikan sebelumnya, bahwa asal usul anak adalah dasar untuk menunjukkan adanya hubungan nasab (kekerabatan) dengan ayahnya. Karena itu kebanyakan ulama berpendapat bahwa anak yang lahir sebagai akibat zina dan/atau li’an, hanya mempunyai hubungan kekerabatan dengan ibu yang melahirkannya.

Namun demikian, di negara Republik Indonesia dalam hal dimaksud, tampak keberlakuan berbagai sistem hukum dalam masyarakat muslim, dimana penduduk muslim Indonesia yang bermazhabkan Syafi’i, sehingga Undang-undang No. 1 tahun 1974 mengatur asal usul anak berdasarkan Mazhab Syafi’i. Seperti terlihat pada Pasal 42yang berbunyi:

Keturunan yang sah adalah keturunan yang dilahirkan atau sebagai akibat perkawinanyang sah.[34] Sebaliknya keturunan yang tidak sah adalah keturunan yang tidakdidasarkan atas suatu perkawinan yang sah.

Disamping pasal 42, masalah ini juga dapat dilihat dalam pasal 43 dan 44,sebagai berikut:

Pasal 43

  1. Anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya.
  2. Kedudukan anak tersebut ayat (1) di atas selanjutnya akan diatur dalam peraturan pemerintah.

Pasal 44

  1. Seorang suami dapat menyangkal sahnya anak yang dilahirkan oleh istrinya bilamana ia dapat membuktikan bahwa Istrinya telah berzina dan anak itu akibat daripada perzinaan tersebut.
  2. Pengadilan memberikan keputusan tentang sah/ tidaknya anak atas permintaan pihak yang bersangkutan.

Berkenaan dengan pembuktian asal usul anak, UUP di dalam pasal 55menegaskan:

  1. Asal-usul seoarang anak hanya dapat dibuktikan dengan akte kelahiran yang autentik, yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang.
  2. bila akte kelahiran tersebut dalam ayat (1) tdak sah, pengadilan dapat mengeluarkan penetapan asal usul seorang anak setelah diadakan pemeriksaan yang teliti berdasarkan bukti-bukti yang memnuhi syarat.
  3. atas dasar ketentuan pengadilan tersebut ayat (2) pasal ini, maka instansi pencatatan kelahiran yang ada dalam daerah hukum pengadilan yang mengeluarkan akte kelahiran bagi anak yang bersangkutan.[35]

Hal tersebut sejalan dengan pasal 250 kitab Undang-Undang Hukumperdata yang menyatakan bahwa anak sah adalah anak yang dilahirkan dan dibuatselama perkawinan. Jadi, anak yang dilahirkan dalam suatu perkawinan yang sahmempunyai status sebagai anak kandung.

Di dalam pasal-pasal tersebut ada beberapa hal yang perlu digaris bawahi.Pertama, anak sah adalah yang dilahirkan dalam dan akibat perkawinan yang sah.Kedua, lawan anak sah adalah anak luar perkawinan yang hanya memilikihubungnan perdata dengan ibunya saja. Ketiga, suami berhak melakukkanpengingkaran terhadap sahnya seorang anak. Keempat, bukti asal-usul anak dapatdibuktikan dengan akta kelahiran.

Demikian juga halnya pengaturan status anak berdasarkan KHI. Hal itu diungkapkan sebagai berikut:

Pasal 99 KHI:

Anak yang sah adalah:

  1. anak yang dilahirkan dalam atau akibat perkawinan yang sah.
  2. Hasil pembuahan suami istri yang sah di luar rahim dan dilahirkan oleh istri tersebut.

Pasal 100 KHI:

Anak yang lahir di luar perkawinan hanya mempuyai hubungan nasab dengan ibunya dan keluarga ibunya.

Pasal 101 KHI:

Seorang suami yang mengingkari sahnya anak, sedang istri tidak menyangkalnya, dapat meneguhkan pengingkarannnya dengan li’an.

Undang-undang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam seperti diterangkan di atas, tampaknya tidak merinci mengenai status anak yang sah. Namun bila menganalisis ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan proses kejadian manusia (seperti yang penulis ulas pada awal makalah ini), maka ditemukan bahwa bayi yang berumur 120 hari belum mempunyai Roh dan sesudah 120 hari barulah Allah memerintahkan Malaikat meniupkan Roh kepada Bayi dimaksud.[36] Karena itu, bila kajian ini dihubungkan dengan hadits yang mengungkapkakn bahwa sesudah bayi mempunyai roh disempurkan bentuknya selama dua bulan sehingga batas minimal kandungan yang dapat dikategorikan anak yang sah adalah anak yang lahir minimal enam bulan sesudah pelaksanaan akad nikah.

  1. Perlindungan Anak (Keturunan) dalam Perspektif Islam dan Undang-undang

Dapat dikatakan bahwa keturunan (anak) sebagai makhluk sosial juga memiliki hak-hak yang sama dengan masyarakat lainnya, seperti hak untuk hidup, hak untuk mendapatkan nama yang baik, hak untuk di aqikah, hak mendapkan ASI, hak mendapatkan Pendidikan yang baik, hak mendapat tempat yang baik di hati orang tua, dan serta hak mendapatkan kasih sayang. Karena itu, dari segi berbangsa dan bernegara, anak adalah tunas bangsa, potensi dan generasi muda penerus cita-cita.

Di Indonesia telah ditetapkan Undang-undang no. 39 tahun 1999 tentang HAM yang mencantumkan tentang hak Anak, pelaksanaan kewajiban dan tanggung jawab orang Tua, keluarga, masyarakat, pemerintah, dan negara untuk memberikan perlindungan anak sebagai landasan yuridis bagi pelaksanaan dan tanggungjawab tersebut.

Namun demikian, dalam kegiatan perlindungan anak dan segala aspeknya, ternyata memerlukan payung hukum untuk mewujudkan kehidupan yang baik untuk anak yang diharapkan sebagai penerus bangsa yang potensial, tangguh, memiliki nasionalisme yang dijiwai oleh akhlak mulia. Payung hukum yang dimaksud adalah Undang-undang No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.[37]

Berbicara mengenai hak, pasti disisi lain ada kewajiban. Relasi orang tua dan anak, mengenai hak dan kewajiban mereka dalam Islam adalah seperti yang digambarkan dalam hadits Nabi Muhammad saw., “tidak termasuk golongan umatku, mereka yang tua tidak menyayangi yang muda, dan mereka yang muda tidak menghormati yang tua” (HR. At-Tirmizi).

Anak-anak berhak menerima sesuatu dari orang tuanya, dan orang tua wajib memberikan sesuatu itu pada anaknya. Mengingat tanggungjawabnya orang tua terhadap anak, maka agar tidak terjerumus kepada kezaliman dikarenakan menyia-nyiakan hak anak, hendak orang tua memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Hak untuk hidup

Hak yang paling mendasar bagi manusia adalah hak untuk hidup. Inilah sebabnya mengapa seseorang tidak boleh membunuh orang lain.[38] Satu Pembunuhan terhadap seorang manusia sama dengan menyakiti seluruh manusia. Oleh karena itu terlarang bagi setiap manusia dalam keadaan bagaimanapun juga untuk mencabut nyawa seseorang. Apabila seseorang membunuh seorang manusia, maka seolah olah ia telah membunuh seluruh umat manusia, Q.S al-Maidah/ :32 menyebutnya:

“Maka barang siapa yang membunuh satu manusia tanpakesalahan maka ia seperti membunuh manusia seluruhnya dan barang siapa yang menghidupkannya maka ia seperti menghidupkan seluruh manusia”. (QS: AlMa’idah: 32).

Berkaitan dengan pembunuhan anak, secara lebih tegas Allah telah melarangnya dalam Q.S al-Isra’/ :31 berikut:

“Dan jangan kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rizki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar”. (Q.S, al-Isra’: 31)

Kedua ayat di atas menyiratkan makna bahwa setiap anak berhak untuk hidup, tanpa kecuali anak hasil perkawinan tidak sah, perkawinan difasakh atau lainnya. Artinya agama Islam sudah lebih dahulu menjunjung tinggi hak yang paling mendasar ini sebelum Barat merumuskan Hak Asasi Manusia (HAM).

  1. Hak mendapat kejelasan nasab

Sejak dilahirkan anak berhak untuk mendapatkan kejelasan asal usul keturunannya atau nasabnya. Kejelasan nasab ini berguna untuk menentukan status anak agar mendapatkan hak-hak dari orang tuanya. Selain itu secara psikologis anak akan merasa tenang jika jelas nasabnya sehingga dapat berinteraksi dan diterima di lingkungannya dengan perlakuan yang wajar. Betapa pentingnya kejelasan nasab ini Allah berfirman dalam Q.S al-Ahzab/:5 sebagai berikut:

“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka. Itulah yang lebih adil di sisi Allah. Dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudara seagama dan maulamaulamu” (QS. Al-Ahzab: 5)

  1. Hak mendapatkan pemberian nama yang baik

Memberikan nama merupakan kewajiban setiap orang tua. Nama yang diberikan hendaklah nama yang baik dan memiliki makna yang baik. Nama tidak hanya sebagai simbol untuk mengenal seseorang tetapi lebih dari itu nama adalah doa dan pengharapan. Nama akan berlaku sampai hari kiamat kelak. Nabi saw bersabda: ”Sesungguhnya engkau akan dipanggil di hari kiamat kelak dengan nama-nama kamu dan nama-nama bapak kamu, maka baguskanlah nama-nama kamu”. (HR. Abu Dawud)

Nabi saw sering menemukan beberapa sahabat memberikan nama anak mereka dengan nama yang kurang baik, kemudian beliau menggantinya dengan nama yang baik secara spontan. Seperti nama ’Ashiyah (pelaku maksiat) digantimenjadi Jamilah (indah), Ashram (gersang) menjadi Zar’ah (subur), dan Hazin (sedih) menjadi Sahl (mudah).[39]

  1. Hak memperoleh ASI

Islam memberikan hak pada seorang anak bayi untuk mendapatkan ASI maksimal selama dua tahun. Sebagaimana Allah swt nyatakan dalam Q.S al-Baqarah/2: 233 berikut: “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan”. (QS. Al-Baqarah/2: 233)

Ayat di atas menegaskan bahwa seorang ibu berkewajiban menyusui anaknya selagi sang ibu mampu. Melalui ASI, secara teoritis dalam ilmu kesehatan kebutuhan gizi bayi terpenuhi dan secara psikologis anak merasakan kasih sayang, kelembutan, dan perhatian dari orang tuanya.

Ibn Hazm berkaitan dengan kewajiban menyusui anak berkata:

”Setiap ibu baik yang bertatus merdeka atau budak, punya suami maupun menjadi milik tuannya atau tidak kedua-duanya berkewajiban untuk menyusui bayinya suka atau tidak suka, meskipun si ibu adalah anak perempuan seorang khalifah”.[40]

Ibn Qudamah mengatakan, bahwa menjamin dan mengurus bayi adalah wajib karena jika ditelantarkan ia akan binasa. Untuk itu bayi harus dijaga dari hal-hal yang membuatnya binasa. Bahkan Khalifah Umar memberikan santuan bagi bayi yang baru lahir jika orang itu berasal dari keluarga miskin.[41]

  1. Hak anak dalam mendapatkan asuhan, perawatan dan pemeliharaan

Setiap anak yang lahir memiliki hak atas orang tuanya untuk mendapatkan perawatan, pemeliharaan, dan pengasuhan sehingga mengantarkannya menuju kedewasaan. Pembentukan jiwa anak sangat dipengaruhi oleh cara perawatan dan pengasuhan anak sejak dia dilahirkan. Tumbuh kembang anak memerlukan perhatian yang serius, terutama pada masa balita. Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an terkait dengan pemeliharaan anak yang berbunyi:

Terjemahnya;

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS. At-Tahrim : 6)

Ali bin Abi Thalib berkaitan dengan ayat di atas mengatakan, bahwa yang dimaksud dengan menjaga keluarga dari api neraka adalah mengajari dan mendidik mereka.[42] Dengan demikian, mengajar, membina dan mendidik anakadalah sarana menghantarkan suatu keluarga ke surga, sedangkan mengabaikan kegiatan-kegiatan itu berarti menjerumuskan diri ke neraka.

  1. Hak anak dalam kepemilikan harta benda

Hukum Islam menetapkan anak yang baru dilahirkan telah menerima hak waris. Sejak bayi itu keluar dari perut ibunya dan mengeluarkan suara menangis atau jeritan di saat itulah bayi memiliki hak untuk mewarisi. Nabi saw., bersabda: “Bayi tidak boleh mewarisi sebelum lahir dengan mengeluarkan suara keras, yaitu menjerit, menangis atau bersin”. (H.R. Ath-Thabrani).

Jika bayi itu tidak bisa mengelola harta waris karena keterbatasan kemampuannya maka harta itu boleh dititipkan pada orang yang amanah. Di sinilah Islam memberikan perlindungan terhadap harta anak yatim. Allah SWT berfirman:

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah, mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu bergaul dengan mereka, maka mereka adalah saudaramu, dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan, dan jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesunggunya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana ”. (QS. Al-Baqarah/2: 220)

Dalam ayat lainnya Allah swt mengancam bagi orang yang tidak amanah memegang harta anak yatim, sebagaimana firmannya:

“Sesungguhnya orangorang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala ( neraka )”. (QS. An-Nisa: 10)

  1. Hak anak dalam memperoleh pendidikan dan pengajaran

Agar anak berkembang dengan baik dan optimal mereka perlu mendapatkan pendidikan dan pengajaran. Pendidikan dan pengajaran ini akan menjadi bekal bagi mereka untuk menghadapi tantangan di masa depan. Dengan memberikan pendidikan dan pengajaran pada anak berarti orang tua telah memberikan pakaian perlindungan kepada anaknya, sehingga mereka dapat hidup mandiri dan mampu menghadapi persoalan-persoalan yang menimpa mereka.

Dalam Al-Qur’an Allah swt berfirman: ”Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir (terhadap kesejahteraannya). Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan berbicara dengan tutur kata yang benar”. (QS. Annisa’: 9)

Kandungan ayat tersebut memerintahkan agar kita memiliki rasa khawatir meninggalkan anak keturunan yang lemah. Lemah dalam hal fisik, psikis, ekonomi, kesehatan, intelektual, moral dan lain sebagainya. Ayat ini mengandung pesan agar kita melindungi anak cucu kita bahkan yang belum lahir sekalipunjauh-jauh hari, jangan sampai nanti ia lahir dalam keadaan tidak sehat, tidak cerdas, kurang gizi, dan terlantar tidak terpelihara.

Sebagai agama rahmat Nabi saw telah banyak memberikan contoh-contoh praktis dalam memberikan perlindungan terhadap anak. Di antaranya adalah:

  1. Menyayangi anak meskipun anak zina

Kasih sayang merupakan sifat dasar manusia untuk melindungi. Jika seseorang sayang pada sesuatu pasti ia akan berusaha sekuat tenaga untuk melindunginya. Nabi saw adalah orang yang paling penyayang terhadap anakanak dan memerintahkan orang tua untuk menyayangi anak atau orang muda. Beliau bersabda: “Tidaklah termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi kaum muda dan tidak menghormati kaum tua”. (HR. Tirmidzi) Dalam hadis lain: “Siapa yang tidak menyayangi maka tidak disayangi”. (HR. Bukhari)

Nabi saw pernah mempercepat salatnya ketika mendengar tangisan seorang bayi karena khawatir ibunya gelisah sehingga terganggu salatnya. Dalam kisah lain, Nabi saw pernah salat dan sujudnya agak lama. Ternyata ada cucunya Hasan dan Husain menunggangi punggungnya. Nabi saw tidak sampai hati bangun dari sujud khawatir cucunya terlepas atau terjatuh.[43] Ini merupakan tanda bahwa beliau seorang penyayang dan pelindung terhadap anak-anak.

Bahkan terhadap anak zina sekalipun Nabi saw melimpahkan kasih sayang. Ini dapat dilihat dari kasus wanita Bani Al-Ghamidiyah. Ia datang pada Nabi saw dan melaporkan bahwa dirinya hamil dari hasil zina dan meminta keputusan hukum. Nabi berkata “pulanglah sampai engkau melahirkan”. Ketika ia telah melahirkan, ia datang lagi kepada Nabi dengan membawa bayinya. Nabi berkata” Pergilah, kemudian susuilah anakmu itu sampai engkau menyapihnya”. Setelah selesai disapih, ia datang lagi kepada Nabi bersama bayi, maka Nabi menyerahkan bayi itu kepada laki-laki muslim untuk dirawat. Setelah itu wanita tersebut dijatuhi hukuman rajam (HR. Muslim).

Dua contoh tersebut menunjukkan bahwa betapa Nabi mengutamakan dan melindungi kepentingan anak. Pada contoh yang pertama dapat dipahami bahwa perbuatan ibadah sekalipun tidak boleh mengabaikan kepentingan anak. Pada contoh kedua, memberi gambaran penegakan hukum harus tetap dilaksanakan dengan tidak menafikan kepentingan terbaik bagi anak dengan cara memberi kesempatan pada si ibu memberikan hak yang layak bagi si anak, yaitu hak untuk hidup, tumbuh dan berkembang secara wajar di dalam kandungan, hak dilahirkan dan hak mendapatkan ASI. Meskipun si ibu melakukan perbuatan yang melanggar hukum, anak yang sedang dikandungnya tetap dilindungi dan tidak boleh dirugikan karena perbuatan salah sang ibu.

  1. Berlaku adil dalam pemberian

Islam sangat tegas dan konsisten dalam menerapkan prinsip nondiskriminasi terhadap anak. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang memerintahkan umat manusia untuk berbuat adil terhadap anak-anak: “Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa”…(Qs. Al-Maidah:8). Di dalam ayat yang lain Allah berfirman:“…..Dan (Allah menyuruh kamu) supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil…. (QS. An-Nisa’:127).

Perintah untuk berlaku adil dan tidak membeda-bedakan anak atas jenis kelaminnya juga dijelaskan dalam beberapa hadis, di antaranya:“Berbuat adillah di antara anak-anakmu, berbuat adillah di antara anak-anakmu, berbuat adillah di antara anak-anakmu” (HR. Ashabus Sunan, Imam Ahmad dan Ibnu Hibban). Perintah Rasulullah SAW kepada para orangtua untuk berbuat adil terhadap anakanaknya dilakukan dalam semua pemberian, baik berupa pemberian harta (materi) maupun kasih sayang (immateri). Berikut perintah Nabi Muhammad SAW agar orang tua berbuat adil dalam hal pemberian (materi) terhadap anak-anaknya. Nabi saw bersabda: “Samakanlah di antara anak-anak kalian dalam pemberian” (HR.Thabrani). Nabi saw pernah tidak mau menjadi saksi terhadap perkara Nu’man bin Basyir yang menghibahkan harta kepada salah satu anak laki-lakinya dari seorang istri bernama Ammarah binti Rawahah. Akhirnya Nu’man mencabut kembali hibahnya.[44]

Dalam hal pemberian kasih sayang (immateri), Nabi Muhammad SAW juga sangat menganjurkan kepada orangtua agar berlaku adil sebagaimana diriwayatkan oleh Anas, bahwa seorang laki-laki berada di sisi Rasulullah SAW kemudian datanglah seorang anak laki-lakinya, lalu ia mencium dan mendudukkannya di atas pangkuannya. Setelah itu datanglah puterinya, tidak dipangku sebagaimana anak laki-lakinya, hanya didudukkan di depan Rasulullah SAW. Atas peristiwa itu Rasulullah SAW bersabda: Mengapa engkau tidak menyamakan keduanya? (H.R. al-Bazzar)

  1. Menjaga nama baik anak

Terhadap anak kecil sekalipun Nabi saw mengajarkan pada kita untuk menghargai dan menjaga nama baiknya. Tidak boleh mencela atau berkata kasar pada anak. Anas bin Malik, seorang sahabat yang ikut membantu rumah tangga Nabi saw sejak kecil menuturkan, bahwa selama 10 tahun di sana Nabi saw tidak pernah menghardik atau mengeluarkan kata-kata kasar. (HR. Muslim)

Imam Ghazali sangat mencela orang tua yang menghardik atau merendahkan anak. Menurutnya jika anak terbiasa direndahkan dan dihardik ia akan terbiasa sehingga ia tidak menghiraukan lagi apa yang dikatakan orang tuanya. Ini juga akan berdampak pada perkembangan kepribadiannya menjadi orang bodoh dan lemah.[45]

  1. Segera mencari jika anak hilang

Salman al-Farisi dalam riwayatnya mengatakan: ”Ketika kami sedang duduk di sekitar Rasulullah, tiba-tiba datanglah Ummu Aiman dengan langkah yang bergegas melaporkan: ” Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami kehilangan al-Hasan dan al Husain. Nabi segera memerintahkan: ”Bangkitlah kalian semua, carilah kedua anakku itu! Tiap-tiap orangpun segera pergi ke segala arah, sedangkan aku pergi bersama Nabi dan beliau terus mencari hingga sampai ke sebuah lereng bukit. Ternyata di sana dijumpai al-Hasan dan al-Husain saling berpelukan erat ketakutan karena di dekat mereka ada seekor ular. Dengan segera Rasulullah saw mengusir ular-ular itu sehingga menghilang ke dalam celah-celah bebatuan.[46]

  1. Melindungi anak dari pergaulan yang buruk

Nabi saw telah berpesan berkaitan dengan pergaulan anak hendaklah orang tua mencarikan teman bergaul yang baik. Dalam sebuah hadis beliau bersabda: “Seseorang itu mengikuti agama teman dekatnya. Oleh sebab itu hendaklah seseorang memperhatikan siapa yang menjadi teman dekatnya”. (HR. Abu Dawud)

Hadis di atas menerangkan bahaya teman duduk yang buruk begitu pula bergaul dengan orang-orang yang jahat serta menjadikan mereka teman dekat sama bahayanya. Agama yang dimaksud hadis di atas adalah cara hidup atau tingkah laku sehari-hari. Jadi jika ingin anak kita menjadi orang baik maka carikanlah teman bergaul yang cara hidup dan tingkah lakunya baik. Ibnu Sina pernah mengatakan, bahwa hendaknya seorang anak bergaul dengan anak-anak sebayanya yang memiliki etika yang lebih baik dan sepak terjang yang terpuji. Hal itu karena sesungguhnya pengaruh seorang anak terhadap anak lain yang seusia lebih mendalam, lebih berkesan dan lebih dekat dengannya.[47]

  1. Melindungi anak dari kekerasan

Islam sangat mencela kekerasan terlebih pada anak-anak. Nabi saw sendiri telah mencontohkan bahwa beliau tidak pernah melakukan pemukulan terhadap anak, istri, atau pembantu sekalipun. Aisyah meriwayatkan, bahwa Rasulullah saw tidak penah memukul dengan tangannya terhadap istri atau pelayan, kecuali jika berjihad di jalan Allah (HR. Muslim). Adapun petunjuk hadis yang membolehkan pemukulan terhadap anak jika telah berumur sepuluh tahun, perlu mendapatkan penjelasan.

Jamal Abdurrahman, tokoh pendidikan Islam, menyebutkan kebolehan pemukulan jika telah memenuhi syarat sebagai berikut: 1) Kebolehan memukul jika anak sudah menginjak usia 10 tahun ke atas. Itu juga dalam perkara penting seperti salat yang wajib bukan lainnya. 2) pukulan tidak boleh berlebihan sehingga mencederai. Nabi saw membolehkan pukulan tidak lebih dari 10 kali pukulan. Umar bin Abdul Aziz menginstruksikan para gubernur untuk diteruskan kepada para guru (mu’allim) agar tidak memukul muridnya lebih dari tiga kali berturut-turut. 3) Sarana yang digunakan adalah bahan yang tidak membahayakan dan objek yang dipukul juga bukan bagian fisik yang vital. 4) Pemukulan dilakukan dengan hati-hati tidak keras, yaitu jangan sampai mengangkat ketiak.[48]

Meskipun pemukulan dibolehkan tetapi diusahakan sebagai pilihan terakhir. Akan lebih baik lagi jika kita tidak menghukum dengan pemukulan sebagaimana yang Rasulullah saw contohkan.

  1. Melindungi anak dari kejahatan mahluk halus

Islam tidak saja melindungi anak dari keburukan atau kejahatan mahluk yang nyata tetapi juga dari mahluk halus yang tidak nyata. Salah satu caranya adalah dengan berdoa atau membacakan zikir. Ini artinya mahluk halus itu di luar jangkauan kita untuk mengatasinya oleh sebeb itu kita mohonkan langsung pada Allah perlindungannya. Ibn Abbas menceritakan, bahwa Nabi saw selalu membacakan ta’awwudz (bacaan mohon perlindungan) untuk al-Hasan dan alHusain. Dalam riwayat lain, Aisyah menceritakan, bahwa Rasulullah saw pernah mendengar tangisan bayi kemudian beliau mendatangi rumahnya dan bertanya, kenapa bayi kalian menangis, mengapa tidak kalian ruqyah (jampi) dia dari penyakit ’ain (HR. Ahmad).

  1. Menjaga anak dari penelantaran dengan jaminan nafkah

Orang tua tidak boleh menelantarkan kebutuhan anaknya baik sandang maupun pangan. Allah berfirman, “ dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut”.(QS. Al-Baqarah: 233). Penelantaran kebutuhan anak meruplakan suatu dosa bagi orang tua. Nabi saw bersabda: “Cukup berdosa seseorang yang menyia-nyiakan nafkah orang yang menjadi tanggungannya”. (HR. Abu Dawud dan Ahmad).

Dikisahkan, ada seorang bekas budak Abdullah bin ’Amr berniat satu bulan bemukim di Baitul Maqdis. Abdullah bertanya kepadanya, ”Apakah engkau telah meninggalkan nafkah yang mencukupi keluargamu untuk satu bulan? Orang itu menjawab, ”Tidak”. Maka Abdullah menyuruhnya kembali agar terlebih dahulu mencukupi nafkah selama satu bulan kepergiannya.

Riwayat-riwayat di atas cukup jelas mengambarkan bahwa dalam agama Islam anak wajib mendapatkan perlindungan, baik dari keluarganya, masyarakat, maupun negara.

BAB III

PENUTUP

  1. KESIMPULAN

Dari uraian pembahasan makalah ini, dapat disimpulkan bahwa:

  1. Konsep “Keturunan” atau “anak” dalam al-Qur’an disebut dengan berbagai macam bentuk seperti zurriyah, ibn, walad, athfal, shaby, aqrab, asbath, ghulam, nashl, rabaib, dan ad’iya’akum. Masing-masing istilah tersebut memiliki makna khusus, berbeda antara satu dengan lainnya. Zurriyah-Nashl mengacu pada konsep anak dalam pengertian keturunan. Ibn adalah anak dalam anak kandung. walad, athfal, shaby, ghulam bermakna anak-anak dalam pengertian usia belum memasuki jenjang pendidikan formal, dan sebagainya. Perbedaan makna tersebut merupakan bukti bahwa al-Qur’an sangat peduli dengan keberadaan anak sekaligus bagaimana pola pengasuhannya serta perlindungannya.
  2. Islam memandang anak sebagai karunia yang mahal harganya yang berstatus suci. Karunia yang mahal ini sebagai amanah yang harus dijaga dan dilindungi oleh orang tua khususnya, karena anak sebagai aset orang tua dan aset bangsa. Islam telah memberikan perhatian yang besar terhadap perlindungan anak-anak. Perlindungan dalam Islam meliputi fisik, psikis, intelektual, moral, ekonomi, dan lainnya. Hal ini dijabarkan dalam bentuk memenuhi semua hakhaknya, menjamin kebutuhan sandang dan pangannya, menjaga nama baik dan martabatnya, menjaga kesehatannya, memilihkan teman bergaul yang baik, menghindarkan dari kekerasan, dan lain-lain.

DAFTAR PUSTAKA

Ali Ghufran, Lahirlah dengan Cinta: Fikih Hamil dan Menyusui, Jakarta, Amzah, 2007.

Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din(Semarang, Asy-Syifa’, 1992), 178

Ali Ghufran, Lahirlah dengan Cinta: Fikih Hamil dan Menyusui, Jakarta, Amzah, 2007

Jamal Abdurrahman, Tahapan Mendidik Anak: Teladan Rasulullah, terjemahan oleh Bahrun Abu Bakar, judul asli ”Athfalul Muslimin Kaifa Rabbahumunnabiyul Amin”, Bandung, Irsyad Baitus Salam, 2005.

Sholahuddin Hamid, Hak Asasi Manusia dalam Perspektif Islam, Jakarta, Amisco, t.t

Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din, Semarang, Asy-Syifa’, 1992, jilid 5

Ahmad Warson Munawwir, Kamus al-Munawwir Surabaya: Pustaka Progresif, 1997.

Ali Audah, Konkordasi al-Qur’an, Jakarta: Litera Antarnusa dan Mizan, 1997.

Amir Nuruddin, Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia Jakarta: Inisiasi Press, 2005.

M. Thalib, Perkawinan Menurut Islam, Surabaya: Al-Ikhlas, 1993

Didi jubaedi Ismail dan Maman Abdul Djaliel, Membina Rumah Tangga Islami di Bawah Ridha Ilahi, Bandung: Pustaka Setia, 2000

Prof. Musthafa Abdul Wahid,al-Usrah fi al-Islam (Keluarga dalam Islam) Jakarta: Sahara, 2013.

Yusuf al-Qadhawi, Halal dan Haram dalam Islam, (t.tt).

J. Satrio, Hukum Keluarga Tentang Kedudukan Anak Dalam Undang-Undang, Jakarta: Sahara, 2013

Muhammad Abu Zahrah, Al Ahwal Al Syahsiyah, Bandung: Pustaka Setia, 2001.

Muhammad Fu’ad Abdul Baqi’ al-Mu’jam al-Mufahras li al-Faz al-Qur’an al-Karim Beirut: Dar al-Fikr li at-Tiba’ah wa an-Nasyr wa at-Tauzu’, 1980

Ahmad Warson Munawwir, Kamus al-Munawwir Surabaya: Pustaka Progresif, 1997.

Muhammad Fu’ad Abdul Baqi’ al-Mu’jam al-Mufahras li al-Faz al-Qur’an al-Karim.

Ali Audah, Konkordasi al-Qur’an, Jakarta: Litera Antarnusa dan Mizan, 1997.

Muhammad Abu Zahrah, Al Ahwal Al Syahsiyah, t.tt

Amir Nuruddin, Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia Jakarta: Inisiasi Press, 2005.

Departemen Agama RI, Al Qur’an dan Terjemanya

Zainuddin Ali, Hukum Islam dalam Kajian Syari’ah dan Fiqhi di Indonesia (Makassar: Yayasan al-Ahkam, 2000.

Kementerian Agama RI, Penciptaan Manusia dalam Persfektif al-Qur’an dan Sains,(Tafsir Ilmi), Jakarta: Kementerian Agama RI, 2012.

Sholahuddin Hamid, Hak Asasi Manusia dalam Perspektif Islam, Jakarta, Amisco, t.th)

  1. Konsep penciptaan manusia oleh para ilmuan masih terus mengadakan penelitian, namun sampai detik ini belum sampai pada tingkat validitas yang cukup tinggi, sekalipun teori evolusi masih diberikan oleh sebahagian ahli yang didukung oleh hasil penemuan mereka berupa fosil manusia purba oleh A. Keith tahun 1915 berupa fosil yang mempunyai ciri anatomis dengan manusia.Lihat Kamaludin Abu Nawas.“Penciptaan Manusia dalam al-Qur’an” (Makalah yang disajikan dalam seminar Mata Kuliah Tafsir al-Qur’an pada Program Pasca Sarjana di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Alaudin Ujung Pandang, 1994), 2

  2. Aku tidak menciptakan jin dan manusia melalinkan agar mereka beribadah kepada-Ku. Lihat Q.S; az-Zariat/51: 56

  3. Dengan segala keutamaan dan kelebihan yang diberikan Allah kepada Manusia, menempatkan dia pada suatu kedudukan yang paling istimewa melebihi makhluk-makhluk lain, yaitu sebagai khalifah di muka bumi. Seperti dalam firman Allah: “dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di muka Bumi dan dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian (yang lain) beberapa derajat untuk mengujimu tentang apa yang diberikannya kepadamu, sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat siksaannya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Lihat Q.S. al-An’am/6: 165.

  4. Disamping sebagai khalifah, tugas operasional manusia adalah untuk memakmurkan bumi, sebagaimana terlihat dalam firman Allah: ”Dan kepada Kaum Tsamud (kami) utus saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata “ Hai Kaumku sembahlah Allah, karena tidak ada Tuhan (yang layak disembah) selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya. Karena itu mohonlah ampunannya, sesungguhnya Tuhanku amat dekat (Rahmat-Nya, lagi memperkenankan (do’a hambanya)”. Lihat Q.S. Hud/11: 61.

  5. M. Thalib, Perkawinan Menurut Islam, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1993), 1

  6. Didi jubaedi Ismail dan Maman Abdul Djaliel, Membina Rumah Tangga Islami di Bawah Ridha Ilahi (Bandung: Pustaka Setia, 2000), 181.

  7. Ibid, 182.

  8. Prof. Musthafa Abdul Wahid,al-Usrah fi al-Islam (Keluarga dalam Islam) (Jakarta: Sahara, 2013), 356.

  9. Yusuf al-Qadhawi, Halal dan Haram dalam Islam, (t.tt), 15

  10. J. Satrio, Hukum Keluarga Tentang Kedudukan Anak Dalam Undang-Undang, (Jakarta: Sahara, 2013), 4

  11. Muhammad Abu Zahrah, Al Ahwal Al Syahsiyah, (Bandung: Pustaka Setia, 2001), 385

  12. “Dan orang-orang yang berkata: “ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati kami dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa” lihat Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Madinah: Mujamma al-Malik Fahd li at-Thiba’ah al-Mushaf asy-Syarif, 1996), 569

  13. “dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”.

  14. Slamet Abidin, Fikih Munakahat II, 157

  15. Dalam al-Qur’an, kata walad dipakai untuk menggambarkan adanya hubungan keturunan, sehingga kata walid, berarti ayah kandung, demikian pula kata walidah (ibu kandung). Ini berbeda dengan kata ibn, yang tidak mesti menunjukkan hubungan keturunan. Jadi, ibn bisa berarti anak kandung dan anak angkat. Demikian pulakata ab (bapak),bisa berarti ayah kandung dan ayah angkat.

  16. Muhammad Fu’ad Abdul Baqi’ al-Mu’jam al-Mufahras li al-Faz al-Qur’an al-Karim (Beirut: Dar al-Fikr li at-Tiba’ah wa an-Nasyr wa at-Tauzu’, 1980), 763-765

  17. Ibid,

  18. Ahmad Warson Munawwir, Kamus al-Munawwir (Surabaya: Pustaka Progresif, 1997), 1580

  19. Muhammad Fu’ad Abdul Baqi’ al-Mu’jam al-Mufahras li al-Faz al-Qur’an al-Karim, 138

  20. contohnya adalah pernyataan tradisi orang-orang Jahiliyah yang menisbatkan anak angkatnya seolah-olah seperti anaknya sendiri, sehingga anak angkat itu berhak untuk mewarisi hartanya, tidak boleh dinikahi dan sebagainya. Padahal dalam al-Qur’an, perilaku seperti itu tidak diperbolehkan. Allah Swt berfirman: Artinya “… dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataan dimulutmu saja …”. (Q.S al-Ahzab: 4).

  21. Sehubungan dengan anak perempuan, Al-Qur’an memberikan informasi tentang bagaimana orang-orang jahiliyah memandang dan memperlakukan anak perempuan. Misalnya,mereka menganggapanak perempuan sebagai aib keluarga sehingga mereka pun tega mengubur anak perempuan mereka dalam keadaan hidup-hidup. Al-Qur’an mengecam tindakan tersebut sebagai kejahatan, dosa besar dan kebodohan (Q,S al-Nahl 58-59). Lebih parah lagi, orang-orang Jahiliyah juga menisbatkan anak-anak perempuan untuk Allah, sementara mereka sendiri lebih memilih anak-anak laki-laki (Q.S al Thur 39 dan al Nahl 57). Padahal sesunguhnya Allah Swt tidak memiliki anak, karena Dia Esa, tidak beranak dan tidak pula diperanakkan (Q.S. al-Ikhlas: 1-4).

  22. Ahmad Warson Munawwir, Kamus al-Munawwir, 1587

  23. Sepertihalnya para Nabi yang telah mengikatkan diri dengan sebuah keluarga dan memohon dikaruniai anak.

    “ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik, sesungguhnya Engkau Maha pendengar Do’a” Q.S, Ali-Imran/3: 38 lihat Mahmud Mahdi al-Istambuli, Tuntunan al-Qur’an dan Sunnah, Keluarga Sakinah Mawaddah Warrahmah (Jakarta: Sahara, 2013), 356.

  24. Ali Audah, Konkordasi al-Qur’an ( Jakarta: Litera Antarnusa dan Mizan, 1997), 821

  25. Muhammad Abu Zahrah, Al Ahwal Al Syahsiyah, 385

  26. Amir Nuruddin, Azhari Akmal Tarigan, Hukum Perdata Islam di Indonesia (Jakarta: Inisiasi Press, 2005), 276.

  27. Departemen Agama RI, Al Qur’an dan Terjemanya, 412

  28. Wahbah Al Zuhali, Al fikih Al Islami Wa Adillatuhu, juz 10, 7265

  29. Tentang ini terjadi ijma’ para pakar hukum Islam (fuqaha’) sebagai masa terpendek dari suatu kehamilan. Dalam hal ini, Seluruh maz|hab fikih, baik Sunni maupun syi’i, sepakat bahwa batas minimal kehamilan adalah enam bulan Sebab sekurang-kurangnya wanita hamil adalah selama enam bulan. Lihat Wahbah.., Al fikih Al Islami Wa Adillatuhu, juz 10, 7250-7252

  30. Departemen Agama RI, Al Qur’an, 824

  31. Ibid, 654

  32. Tentang hal ini masih dipersilihkan oleh para pakar hukum Islam. Madzhab Hanafi berpendapat bahwa batas maksimal kehamilan adalah dua tahun, berdasarkan ungkapan A’isyah RA. yang menyatakan bahwa, kehamilan seorang wanita tidak akan melebihi dua tahun. Sedangkan Madzhab Syafi’i dan Hambali berpendapat bahwa masa kehamilan adalah empat tahun. Para ulama madzhab ini menyandarkan pada riwayat yang menyatakan bahwa istri suku Ajlan mengalami kehamilan selama empat tahun. Anehnya, istri anakanya, Muhammad, juga hamil selama empat tahun, bahkan semua wanita suku Ajlan hamil selam empat tahun.Pendapat yang dilontarkan oleh ketiga madzhab tersebut berbeda dengan pendapat madzhab Maliki. Menurutnya, batas maksimal kehamilan adalah lima tahun. Pendapat ini didukung oleh Al laith bin Said dan Ibad bin Al Awwam. Bahkan menurut cerita Malik, suatu ketika ada seorang wanita hamil yang datang kepadanya sambil mengatakan bahwa masa kehamilannya mencapai 7 tahun.Lihat Wahbah.., Al fikih Al Islami Wa Adillatuhu, 7251.

  33. Abdul Manan, Aneka Masalah Hukum Perdata Islam di Indonesia, 79

  34. Zainuddin Ali, Hukum Islam dalam Kajian Syari’ah dan Fiqhi di Indonesia (Makassar: Yayasan al-Ahkam, 2000), 133

  35. Amir Nuruddin dan Azhari Akmal Taringan, Hukum, 281-282.

  36. Kementerian Agama RI, Penciptaan Manusia dalam Persfektif al-Qur’an dan Sains,(Tafsir Ilmi) ( Jakarta: Kementerian Agama RI, 2012), 75-94.

  37. Imam Purwadi, Penelitian Perdagangan (Traficking) Perempuan dan Anak di Nusa Tenggara Barat (NTB, Lembaga Perlindungan Anak, 2006), 1

  38. Sholahuddin Hamid, Hak Asasi Manusia dalam Perspektif Islam (Jakarta, Amisco, t.th), 139

  39. Ibid, 64

  40. Ibid,

  41. Ibid, 8

  42. Ali Ghufran, Lahirlah dengan Cinta: Fikih Hamil dan Menyusui, (Jakarta, Amzah, 2007), 70

  43. Jamal Abdurrahman, op. cit., hlm. 89 dan 92

  44. Ibid, 148

  45. Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din(Semarang, Asy-Syifa’, 1992), 178

  46. Ibid, 102

  47. Ibid, 212

  48. Ibid, 180-182

Sejarah Sosial keturunan dalam Hukum Keluarga
Tag pada:        

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *